RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kekhawatiran akan persebaran virus Nipah muncul seiring dengan kasus kematian lima warga India di Benggala Barat pada Sabtu (24/1). Namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memastikan saat ini virus tersebut belum terdeteksi di Indonesia.
Sebelumnya menurut The Independent, selain lima warga meninggal, 100 warga Benggala Barat saat ini dikarantina atas dugaan persebaran penyakit tersebut. Satu diantaranya dirawat dalam keadaan kritis.
“Hingga saat ini belum dilaporkan adanya kasus konfirmasi penyakit virus Nipah di Indonesia. Namun penyakit zoonosis (menyebar melalui hewan) ini perlu diwaspadai,” jelas Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman dalam keterangan resmi kementerian pada Selasa (27/1).
Virus Nipah pertama kali ditemukan pada 1998 di Malaysia, berdasarkan penelusuran kasus pandemi yang berakar dari sebuah peternakan babi di wilayah Kampung Sungai Nipah, Provinsi Negeri Sembilan. Selain babi, kelelawar juga diketahui sebagai perantara persebaran virus Nipah.
Virus Nipah dapat menular dari kelelawar atau babi melalui kontak langsung dengan bagian tubuh mereka, termasuk air liur, darah, urin dan cairan tubuh lainnya. Sehingga Kemenkes mewanti-wanti masyarakat untuk berhati-hati, terutama menghindari buah-buahan dan pohon aren yang sudah digigit kelelawar.
"Tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan kelelawar. Kemudian cuci dan kupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi," papar Juru Bicara Kemenkes, Widyawati dalam keterangan resmi kementerian.
Selain itu, Kemenkes juga mewanti-wanti warga yang akan berpergian ke India agar mematuhi peraturan isolasi dari pemerintah India jika diberlakukan, dan memeriksakan diri usai pulang ke Indonesia. Barang bawaan dari India ke Indonesia juga wajib diperiksa untuk mengurangi potensi persebaran.
"Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit Nipah seperti demam, batuk, pilek, sesak nafas, muntah, penurunan kesadaran atau kejang pasca kepulangan dari India atau negara terjangkit lain," tambah Widyawati.
Diketahui dari catatan Kemenkes, virus Nipah memiliki tingkat kematian tinggi, yakni 40 hingga 75 persen. Selain itu, belum ada vaksin maupun obat yang secara khusus dapat mengobati pasien yang terjangkit virus Nipah, sehingga pengobatan yang tersedia saat ini masih bersifat suportif tergantung dari hasil deteksi pasien. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana