RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Selasa (5/08), Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno hadir di RSUD Padangan, Bojonegoro. Didampingi oleh Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, dr. Azhar Jaya, Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dr. Ninis Herlina Kiranasari, Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah dan jajaran Forkopimda.
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka peresmian layanan unggulan Katarak Center dan peninjauan layanan High Care Unit (HCU) dan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) di RSUD Padangan. Direktur RSUD Padangan dr. Whenny Dyah Prajanti menyampaikan bahwa pengembangan layanan unggulan Katarak Center adalah upaya perubahan untuk peningkatan kualitas pelayanan dalam rangka pembangunan Zona Integritas, selain itu juga untuk menjawab kebutuhan masyarakat atas pelayanan kesehatan mata.
“Kunjungan pasien mata di RSUD Padangan terus menerus naik, pada tahun 2024 sebanyak 11.242 kunjungan dan 598 pasien diantaranya mandapatkan tindakan operasi katarak, dan bahkan Tahun 2025 hingga bulan Agustus sudah 400 pasien mendapatkan tindakan operasi katarak”, ungkap dr. Eko Widayanto, Dokter Spesialis Mata yang menggawangi Katarak Center.
Selanjutnya Direktur RSUD Padangan mengimbuhkan bahwa pada tahun 2025 ini RSUD Padangan juga mengembangkan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dan High Care Unit (HCU) yang dibuat sesuai standar kementerian kesehatan.
“Kami berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat Bojonegoro sebagaimana dipesankan oleh Bapak Bupati dengan mengembangkan KRIS dan HCU sebanyak 11 Tempat Tidur dengan standar yang dipersyaratkan Kementerian Kesehatan” ia menjelaskan.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro, Ninik Susmiati menjelaskan bahwa RSUD Padangan masuk dalam target transformasi Rumah Sakit yang digagas oleh Bupati Bojonegoro. “Saat ini RSUD Padangan sudah memiliki 15 layanan spesialistik dan 20 Dokter Spesialis, oleh Pak Bupati ditargetkan untuk naik dari Kelas C menjadi kelas B, serta mengembangkan jenis layanan spesialistik yang belum ada seperti Jantung dan Jiwa” ungkapnya menjelaskan.
“Saya melihat potensi RSUD Padangan sangat besar, RSUD Padangan bisa menerima rujukan dari Kabupaten tetangga seperti Blora, Grobokan, Rembang bahkan Ngawi dan Tuban” ungkap Bupati Bojonegoro menyampaikan hasil survei yang dia lakukan bersama timnya.
Pria yang akrab disapa Mas Bupati tersebut melanjutkan penjelasannya bahwa dia merencakan untuk membesarkan RSUD Padangan dengan menekankan pengelolaan dengan konsep sociopreneur. “Artinya Rumah Sakit tetap melayani dengan misi sosialnya namun juga tetap tumbuh dan berkembang”, ungkapnya.
Namun demikian, Setyo Wahono tidak menampik bahwa tantangan terbesar adalah menarik Dokter Spesialis untuk mau bekerja di RSUD, karena pada tahun 2024 RSUD Padangan membuka lowongan 10 jenis dokter spesialis namun tidak ada yang mendaftar.
“Kita akan membangun ekosistem pendukung di Padangan seperti tempat Pendidikan yang berkualitas, pusat perdagangan dan tempat wisata agar Dokter Spesialis berminat bekerja di RSUD Padangan” jelasnya.
Sesaat setelah peresmian Katarak Center, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan dr. Azhar Jaya memberikan apresiasi kepada RSUD Padangan yang telah mengembangkan Katarak Center, karena ini sangat relevan dengan kondisi yang terjadi di Indonesia. Dia menambahkan bahwa kejadian kebutaan di Indonesia sebesar 3% dengan penyebabnya 77% karena katarak.
Selain apresiasi tentang Katarak Center, Pria kelahiran Jakarta tersebut juga mengapresiasi bahwa RSUD Padangan menambahkan kapasitas HCU dan mengembangkan KRIS. “Biasanya Rumah Sakit itu justru mengurangi HCU dan Intensive Care Unit (ICU) karena keduanya termasuk pelayanan yang rugi jika dilihat dari klaim BPJS, namun RSUD Padangan justru menambah HCU” imbuhnya.
Mengenai sulitnya menarik dokter spesialis, dr. Azhar menyarankan agar Bupati Bojonegoro melakukan seleksi putraputri terbaik daerah untuk diberangkatkan sekolah Dokter Spesialis menggunakan beasiswa LPDP. Senada dengan apa yang telah disampaikan oleh Bupati Bojonegoro.
Menko PMK Pratikno memuji pengembangan RSUD Padangan selain itu juga menyampaikan bahwa kawasan Padangan dan sekitarnya sangat potensial untuk dikembangan sebagai kawasan yang disebutnya sebagai The Healing Capital of East Java.
“Nanti bisa dikembangkan wisata di waduk Sonorejo, kerajinan kayu di Kasiman, Wisata kota tua di Kuncen Padangan, wisata belanja di Cendono, pendidikan berkualitas di sekolahsekolah sekitar Padangan dan RSUD Padangan sebagai pusat kesehatannya, dengan pengembangan ekosistem seperti itu harapannya semakin banyak dokter spesialis berminat untuk bekerja di RSUD Padangan” ungkapnya.
Lebih jauh lagi pria asal Desa Dolog Gede tersebut menyarankan Bupati Bojonegoro selagi pendapatan Kabupaten Bojonegoro dari minyak dan gas masih tinggi maka sebaiknya anggaran diarahkan pada belanja-belanja produktif.
“Pengembangan Rumah Sakit ini termasuk strategis, apalagi ke depan pendidikan Dokter Spesialis nanti akan menjadi Hospital Based, atau bisa juga kerjasama dengan Fakultas Kedokteran, jika Rumah Sakit mumpuni maka nanti bisa melahirkan dokter spesialis sendiri”, tutupnya. (*)