Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Jamu Tradisional Indonesia: Warisan Leluhur dengan Khasiat Teruji

Hakam Alghivari • Rabu, 30 Juli 2025 | 21:31 WIB
ALAMI: Produsen jamu di Lamongan, Mastuti Anisa tidak menggunakan bahan pengawet. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
ALAMI: Produsen jamu di Lamongan, Mastuti Anisa tidak menggunakan bahan pengawet. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Lanskap pengobatan tradisional dunia, Indonesia dikenal memiliki kekayaan rempah dan ramuan herbal yang diracik menjadi jamu. Jamu bukan sekadar minuman kesehatan turun-temurun, tetapi juga telah menjadi bagian dari gaya hidup dan pengobatan komplementer masyarakat Nusantara.

Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa beberapa jenis jamu memiliki efektivitas terapeutik, terutama dalam pengobatan gangguan pencernaan, nyeri otot, hingga daya tahan tubuh.

Berikut ini adalah beberapa jenis jamu tradisional Indonesia beserta khasiatnya, yang didukung oleh literatur ilmiah dan publikasi medis.

1. Kunyit Asam

Kombinasi antara Curcuma longa (kunyit) dan Tamarindus indica (asam) telah lama digunakan untuk meredakan nyeri haid, detoksifikasi tubuh, hingga sebagai antioksidan.

Sebuah studi dalam Journal of Ethnopharmacology (2019) menjelaskan bahwa senyawa kurkumin dalam kunyit bersifat antiinflamasi dan analgesik alami.

Khasiat ini memperkuat bukti empiris yang selama ini dipercaya masyarakat, terutama perempuan, dalam mengatasi nyeri menstruasi dan menjaga kebugaran.

2. Beras Kencur

Terbuat dari campuran beras, kencur (Kaempferia galanga), gula merah, dan air, jamu ini dikenal luas sebagai peningkat stamina dan pereda pegal linu.

Menurut jurnal Pharmacognosy Reviews (2010), kencur mengandung senyawa etil-p-metoksisinamat dan borneol yang bersifat anti-inflamasi dan antinyeri.

Jamu ini sering dikonsumsi oleh anak-anak hingga orang dewasa untuk menjaga kebugaran fisik.

3. Temulawak

Curcuma xanthorrhiza atau temulawak merupakan tanaman herbal khas Indonesia yang banyak digunakan untuk mengatasi gangguan hati dan meningkatkan nafsu makan.

Dalam jurnal Medicines (2018), temulawak terbukti memiliki efek hepatoprotektif, yang artinya melindungi fungsi hati dari kerusakan akibat toksin. Ekstrak temulawak juga dikaji dalam pengembangan fitofarmaka di Indonesia.

4. Pahitan

Pahitan adalah jamu berbahan dasar sambiloto (Andrographis paniculata), brotowali, dan temulawak, yang digunakan untuk menurunkan kadar gula darah serta mengatasi masalah jerawat dari dalam.

Andrographis paniculata, yang menjadi bahan utama, telah diteliti secara luas di Asia. Studi dari Frontiers in Pharmacology (2020) mengungkap bahwa sambiloto memiliki efek imunomodulator dan antidiabetik.

Tidak heran jika pahitan kerap digunakan oleh penderita diabetes sebagai terapi pendukung.

5. Sinom

Sinom berasal dari daun asam muda, kunyit, dan gula merah. Jamu ini dipercaya menyegarkan tubuh dan menjaga kesehatan kulit.

Dalam publikasi Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine (2013), kandungan flavonoid dalam daun asam memiliki efek antiradang dan mempercepat regenerasi sel, sehingga menjadikan sinom sebagai jamu yang bermanfaat untuk kecantikan dan kebugaran.

6. Cabe Puyang

Merupakan jamu yang dibuat dari cabe jawa (Piper retrofractum) dan puyang (Zingiber zerumbet), berfungsi sebagai pereda pegal linu dan nyeri otot.

Cabe jawa mengandung piperin, senyawa aktif yang memiliki efek analgesik dan meningkatkan sirkulasi darah.

Sementara puyang dikenal dalam pengobatan tradisional untuk meredakan rematik dan gangguan saraf ringan, sebagaimana dibahas dalam Journal of Herbal Medicine.

7. Kunci Suruh

Campuran dari kunci (Boesenbergia rotunda) dan daun sirih (Piper betle) ini biasanya dikonsumsi perempuan untuk menjaga kesehatan organ reproduksi.

Dalam riset yang diterbitkan oleh International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research (2017), kedua tanaman tersebut memiliki sifat antimikroba dan antiinflamasi.

Ini mendukung penggunaannya dalam menjaga kebersihan dan kesehatan area kewanitaan secara alami.

Jamu dan Dukungan Ilmiah: Jalan Tengah Pengobatan Modern

Meskipun jamu tidak dapat menggantikan peran obat-obatan klinis, sejumlah fitokimia yang terkandung di dalamnya mulai diakui dalam dunia medis sebagai bagian dari pengobatan pelengkap (complementary medicine).

Kementerian Kesehatan RI pun mendorong riset dan pengembangan jamu melalui program fitofarmaka, agar penggunaannya bisa lebih terukur dan aman.

Di era modern, jamu bahkan telah diproses dalam bentuk kapsul, tablet, hingga ekstrak cair, dengan standar produksi yang diawasi BPOM. Ini menunjukkan bahwa warisan tradisional bukan sekadar cerita nenek moyang, melainkan memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara ilmiah.

 Baca Juga: Hati-Hati! Ini 5 Tanda Awal Asam Urat yang Sering Diabaikan dan Bisa Sebabkan Radang Sendi Parah

Mengonsumsi jamu bukan hanya tentang menjaga tradisi, melainkan juga tentang mengenali potensi alam untuk kesehatan.

Selama dikonsumsi sesuai takaran dan dipastikan kebersihannya, jamu tetap menjadi alternatif yang bijak untuk menjaga keseimbangan tubuh. Namun, penting untuk tetap berkonsultasi dengan tenaga medis jika memiliki kondisi kesehatan tertentu. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#indonesia #khasiat #jamu #tradisional #ilmiah