Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Terlihat Sehat Tapi Diam-Diam Mengidap Penyakit Kronis

Hakam Alghivari • Rabu, 23 Juli 2025 | 01:10 WIB

 

Ilustrasi kesehatan.
Ilustrasi kesehatan.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tidak semua tubuh bugar adalah tubuh yang benar-benar sehat. Banyak orang berjalan ringan setiap hari, beraktivitas penuh energi, bahkan tampak prima secara fisik—namun ternyata menyimpan penyakit kronis yang berkembang dalam diam.

Mereka tidak pernah merasa benar-benar sakit, tapi jauh di dalam sistem tubuhnya, sel-sel mulai rusak, organ mulai terbebani, dan metabolisme mulai terganggu.

Fenomena ini kian sering ditemukan dalam masyarakat modern. Dengan gaya hidup aktif, orang mudah menyimpulkan bahwa dirinya sehat, padahal kesehatan tidak hanya soal penampilan luar. Dalam banyak kasus, penyakit kronis seperti gangguan metabolik, kardiovaskular, hingga fungsi hati dan ginjal justru berkembang tanpa gejala berarti hingga sudah memasuki tahap serius.

Mengapa kondisi ini bisa terjadi? Dan lebih penting lagi, bagaimana kita bisa mencegahnya sebelum terlambat?

Silent Disease: Saat Tubuh Terlihat Baik-baik Saja

Salah satu alasan mengapa penyakit kronis kerap tidak terdeteksi dini adalah karena banyak di antaranya tergolong silent disease. Ini adalah istilah medis untuk penyakit yang tidak menunjukkan gejala berarti hingga kerusakan sudah cukup parah. Dalam kategori ini termasuk hipertensi, diabetes, perlemakan hati non-alkoholik, penyakit ginjal kronik, hingga gangguan tiroid.

Pada tahap awal, tubuh biasanya bekerja ekstra untuk mengompensasi fungsi organ yang mulai terganggu. Misalnya, ginjal yang sudah rusak 40–50% masih mampu menyaring darah dengan normal. Atau pankreas yang mulai kelelahan tetap mampu menghasilkan insulin cukup untuk menjaga gula darah stabil—sampai akhirnya gagal secara tiba-tiba. Di sinilah letak bahayanya: tubuh tak menunjukkan alarm sampai sistem sudah terlalu rusak.

Banyak orang tidak sadar akan kondisi ini karena tidak merasa sakit. Padahal menurut WHO, sebagian besar penyakit kronis bisa dicegah atau dikendalikan jika terdeteksi dini. Sayangnya, deteksi dini hanya bisa dilakukan jika seseorang mau memeriksa kesehatannya secara rutin, bukan hanya menunggu gejala muncul.

Ketika Gaya Hidup Sehat Tidak Cukup

Banyak orang merasa yakin dirinya sehat karena rajin berolahraga, tidur cukup, atau tidak merokok. Namun, gaya hidup sehat secara umum belum tentu menutupi faktor-faktor risiko yang lebih kompleks. Faktor genetik, kebiasaan makan yang tampak “normal” tapi berlebih gula atau garam, serta stres jangka panjang sering kali menjadi pemicu utama munculnya gangguan metabolik dalam tubuh.

Contohnya, seseorang bisa terlihat kurus dan atletis, tetapi memiliki kadar kolesterol tinggi karena rutin mengonsumsi makanan tinggi lemak trans dan rendah serat. Atau seseorang yang gemar minum minuman manis setiap hari bisa mengalami resistensi insulin tanpa disadari. Kasus-kasus ini banyak ditemukan dalam studi longitudinal, seperti dalam Framingham Heart Study, yang menunjukkan bahwa penampilan fisik tidak selalu merepresentasikan status kesehatan internal.

Hal ini diperkuat oleh istilah TOFI (thin outside, fat inside), yaitu kondisi di mana seseorang tampak ramping tapi memiliki kadar lemak viseral yang tinggi—lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam dan sangat berbahaya. Artinya, sehat itu bukan sekadar angka di timbangan atau tampilan tubuh, tapi soal kualitas fungsi organ dan sistem metabolisme.

Kenapa Banyak Orang Tidak Tahu Dirinya Sakit?

Salah satu penyebab utama banyak orang tak sadar sedang mengidap penyakit kronis adalah karena minimnya pemeriksaan kesehatan berkala. Dalam budaya kita, pergi ke dokter lebih sering dikaitkan dengan kondisi darurat atau rasa sakit yang sudah nyata. Sementara cek lab rutin masih dianggap buang waktu atau hanya untuk orang yang sudah “berumur”.

Padahal, penyakit kronis tidak mengenal usia. Bahkan, data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat peningkatan signifikan penderita diabetes tipe 2 dan tekanan darah tinggi di kelompok usia 30–40 tahun dalam dekade terakhir. Banyak dari mereka datang ke fasilitas kesehatan bukan karena merasa sakit, tapi karena ikut medical check-up kantor—dan baru sadar kondisi mereka mengkhawatirkan.

Ditambah lagi, banyak keluhan ringan sering dianggap sepele: cepat lelah, konsentrasi menurun, pusing ringan, atau gangguan tidur. Semua ini bisa menjadi gejala awal dari proses patologis kronis yang sedang berlangsung. Sayangnya, karena tidak mengganggu aktivitas, sinyal-sinyal tersebut justru cenderung diabaikan.

Pentingnya Mengubah Paradigma “Selama Tidak Sakit, Berarti Sehat”

Masyarakat kita terbiasa menilai kesehatan berdasarkan rasa. Selama tubuh tidak terasa sakit atau lemah, maka dianggap baik-baik saja. Padahal, ini adalah paradigma yang keliru dan berisiko tinggi. Ilmu kedokteran modern justru mengandalkan deteksi dini, karena semakin cepat suatu penyakit dikenali, semakin besar peluang untuk dikendalikan bahkan disembuhkan.

Di sinilah pentingnya edukasi publik tentang health literacy. Memahami arti dari hasil cek laboratorium sederhana seperti gula darah, kolesterol, fungsi hati dan ginjal, serta tekanan darah bisa menjadi bekal penting untuk mencegah kerusakan sistemik jangka panjang. Terlebih lagi, dengan makin mudahnya akses ke klinik, laboratorium mandiri, dan layanan telemedisin, tidak ada alasan lagi untuk menunda skrining kesehatan.

Menjaga pola hidup sehat tetaplah penting. Namun, pola hidup sehat yang disertai kesadaran tentang risiko tak kasat mata adalah kunci utama dalam melindungi diri dari serangan diam-diam penyakit kronis.

Menjadi Sehat Artinya Menjadi Sadar

Tubuh memang tidak selalu bicara keras. Kadang ia hanya memberi bisikan kecil: mudah lelah, susah fokus, atau gangguan tidur. Namun bila kita terus menutup telinga dan enggan memeriksakan diri, bisikan itu bisa berubah menjadi jeritan yang terlambat ditangani.

Menjadi sehat di era modern bukan hanya soal makan bersih dan rajin olahraga, tapi juga membangun kesadaran untuk rutin mengevaluasi kondisi dalam tubuh kita sendiri. Karena kadang yang tampak sehat di luar, justru sedang dalam pertarungan diam-diam di dalam. (kam)

Editor : Hakam Alghivari
#silent disease #penyakit kronis #silent killer