Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Efek Samping ‘Ngemil Manis Saat Stres’: Bukan Cuma Berat Badan yang Naik

Hakam Alghivari • Senin, 21 Juli 2025 | 05:46 WIB
Ilustrasi perempuan ketika memilih menu makanan di restoran
Ilustrasi perempuan ketika memilih menu makanan di restoran

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di tengah tekanan kerja, masalah pribadi, atau hanya sekadar hari yang melelahkan, banyak orang memilih camilan manis sebagai pelarian. Sepotong cokelat, boba, atau kue manis seolah menjadi sahabat pelipur lara.

Namun, kebiasaan ini diam-diam menyimpan risiko kesehatan yang jarang disadari: bukan hanya soal berat badan yang bertambah, tapi juga potensi gangguan emosi dan ketergantungan.

Camilan Manis dan Pola Emosi: Pelarian yang Mengikat

Kebiasaan ngemil makanan manis saat stres termasuk dalam pola emotional eating. Ini adalah mekanisme alami tubuh untuk mencari kenyamanan, sebab makanan manis dapat memicu pelepasan dopamin—zat kimia otak yang memunculkan rasa senang.

Namun, seperti ditinjau dari berbagai literatur kesehatan seperti Harvard Health Publishing, efek ini bersifat sementara dan semu. Setelah kadar gula darah naik tajam, tubuh justru mengalami “crash” atau penurunan gula secara mendadak. Akibatnya, seseorang bisa merasa lebih lesu, mudah marah, bahkan cemas. Inilah yang dikenal sebagai sugar crash.

Ketika hal ini terjadi berulang, otak mulai terbiasa mencari rasa nyaman lewat asupan manis. Tanpa disadari, pola ini dapat memicu kecanduan gula, sama seperti kecanduan nikotin atau kafein, meski dalam kadar berbeda.

Bukan Cuma Gemuk: Efek Laten Gula Berlebih

Menurut data World Health Organization (WHO), konsumsi gula tambahan harian idealnya tak lebih dari 10% total energi harian, atau sekitar 50 gram untuk orang dewasa. Namun dalam praktiknya, satu gelas minuman kekinian bisa mengandung lebih dari separuh batas tersebut.

Konsumsi gula berlebih bukan hanya menambah berat badan. Beberapa efek laten lain yang bisa muncul antara lain:

Tak hanya itu, sebuah studi yang dimuat dalam British Journal of Sports Medicine juga menunjukkan bahwa konsumsi gula tinggi dalam waktu lama berkorelasi dengan peningkatan risiko gangguan mental ringan, seperti depresi ringan dan kecemasan.

Cara Mengelola Stres Tanpa Gula

Menghilangkan camilan manis sepenuhnya dari hidup tentu tidak realistis. Namun, menyadari kapan dan mengapa kita mengonsumsinya bisa menjadi langkah awal. Berikut beberapa cara yang disarankan para ahli untuk mengelola stres tanpa bergantung pada gula:

  1. Kenali pemicu emosional – Apakah Anda makan manis saat bosan, cemas, atau marah?

  2. Alihkan dengan aktivitas pengalih positif – Seperti jalan kaki ringan, journaling, atau mendengarkan musik.

  3. Ganti dengan camilan sehat – Buah segar, yogurt rendah gula, dark chocolate minimal 70%, atau kacang panggang tanpa garam.

  4. Atur pola tidur dan hidrasi – Kurang tidur dan dehidrasi meningkatkan hasrat terhadap gula.

  5. Praktikkan mindfulness saat makan – Nikmati makanan dengan perlahan, tanpa distraksi gadget.

Ngemil manis saat stres memang terasa menyenangkan, tapi efek jangka panjangnya jauh dari kata nyaman. Alih-alih memberi kenyamanan, kebiasaan ini justru bisa memperburuk suasana hati, memicu kecanduan, dan merusak sistem metabolisme tubuh.

Menjaga keseimbangan bukan berarti harus menghindari gula sama sekali. Tapi dengan menyadari kenapa kita makan, bukan hanya apa yang kita makan, kita bisa lebih bijak menjaga tubuh dan pikiran. (km) 

Editor : Hakam Alghivari
#camilan manis #gula #Efek #kebiasaan #stres