RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bayangkan kamu bangun pagi, memakai sepatu lari, dan berolahraga hampir setiap hari. Keringat bercucuran, detak jantung berpacu, dan kamu merasa lebih bugar dari sebelumnya. Tapi saat berdiri di atas timbangan, angka yang muncul masih sama. Bahkan, kadang naik.
Frustrasi? Wajar. Banyak orang mengalami hal yang sama. Mereka mengira olahraga otomatis akan menurunkan berat badan. Namun kenyataannya, timbangan tak selalu bersahabat dengan usaha keras kita.
Jika kamu pernah bertanya-tanya kenapa sudah berolahraga tapi berat badan tidak juga turun, sains punya jawabannya—dan mungkin, bukan seperti yang selama ini kamu duga.
Tubuh Punya Mekanisme Tersembunyi: Kompensasi Energi
Salah satu penjelasan utama datang dari temuan ilmiah bahwa tubuh manusia punya mekanisme alami untuk menghemat energi, bahkan ketika kamu merasa sedang membakarnya.
Menurut artikel Psychology Today (Juli 2025), yang merujuk pada meta-analisis 32 studi dengan lebih dari 4.700 peserta, olahraga memang membakar kalori, tapi jumlah penurunan berat badan akibat olahraga murni cenderung kecil—rata-rata hanya 2 kg dalam beberapa bulan. Kenapa bisa begitu?
Tubuh memiliki sistem adaptif. Ketika kamu aktif secara fisik, tubuh akan mengurangi energi yang dipakai untuk aktivitas lain—seperti fungsi sistem imun, pencernaan, dan bahkan gerakan-gerakan kecil sehari-hari. Fenomena ini disebut kompensasi energi.
Sebuah studi tahun 2022 yang menggunakan metode pengukuran akurat (doubly labeled water) menemukan bahwa hingga 28% kalori yang dibakar saat olahraga dikompensasi kembali oleh tubuh. Pada individu dengan kelebihan berat badan, kompensasi ini bisa mencapai lebih dari 50%, membuat penurunan berat badan semakin sulit.
Makan Lebih Banyak Tanpa Sadar?
Selain faktor biologis, ada juga sisi psikologis. Setelah berolahraga, banyak orang merasa “berhak” makan lebih banyak sebagai hadiah atau merasa lapar berlebihan akibat peningkatan aktivitas.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Obesity Reviews menemukan bahwa sebagian besar orang cenderung meremehkan jumlah kalori yang mereka konsumsi setelah olahraga, dan melebih-lebihkan kalori yang mereka bakar. Inilah yang menyebabkan surplus kalori tetap terjadi, meski kita merasa sudah “capek olahraga.”
Bukan Berarti Olahraga Tak Penting
Meskipun tidak selalu menghasilkan penurunan berat badan signifikan, olahraga tetap sangat penting. Aktivitas fisik rutin:
-
Meningkatkan kesehatan jantung
-
Menurunkan stres dan depresi
-
Meningkatkan sensitivitas insulin
-
Menjaga massa otot dan metabolisme saat kamu menurunkan berat badan lewat diet
Artinya, meski timbangan tak berubah, tubuhmu tetap berubah. Komposisi tubuh bisa membaik (lemak turun, otot bertambah), dan kesehatan metabolik meningkat.
Fokuskan pada Pola Makan: Strategi Utama Menurunkan Berat Badan
Para ahli sepakat bahwa pengaturan pola makan berperan jauh lebih besar dalam penurunan berat badan dibanding olahraga.
Dr. Kevin Hall, peneliti metabolisme dari National Institutes of Health (NIH), menyatakan bahwa “kalori lebih mudah dikontrol dari asupan makanan ketimbang dibakar lewat aktivitas fisik.” Satu potong pizza bisa bernilai 300–400 kalori. Untuk membakarnya, kamu harus lari sekitar 30 menit tanpa henti.
Artinya: olahraga mendukung, tapi diet adalah kunci utama.
Olahraga Itu Bagus, Tapi Jangan Lupakan Pola Makanan
Jika kamu rutin berolahraga tapi belum melihat hasil di timbangan, bukan berarti kamu gagal. Mungkin kamu hanya belum menyesuaikan pola makan atau belum mengenali cara tubuh bekerja secara menyeluruh.
Jadi, lanjutkan rutinitas olahraga—karena manfaatnya tetap luar biasa. Tapi mulai sekarang, beri perhatian lebih pada apa yang masuk ke tubuhmu, bukan hanya apa yang keluar lewat keringat. (kam)
Editor : Hakam Alghivari