Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Meneropong Setahun Kepemimpinan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi dan Wabup Dirham Akbar Aksara: Memperkuat Ketahanan Pangan hingga Daya Saing Investasi

Bachtiar Febrianto • Senin, 23 Februari 2026 | 08:00 WIB

BACHTIAR FEBRIANTO (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
BACHTIAR FEBRIANTO (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Bachtiar Febrianto
Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro

 

SATU tahun kepemimpinan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi dan Wakil Bupati Dirham Akbar Aksara secara umum menunjukkan progres positif. Yaitu, menata fiskal, memperkuat ketahanan pangan, membangun konektivitas, sekaligus mendorong Lamongan sebagai tujuan investasi yang kompetitif di Jawa Timur.

Meski mengawali tugas dengan kondisi kurang menguntungkan berupa penurunan fiskal daerah akibat kebijakan efisiensi pemerintah pusat.

Ketahanan Pangan: Skala dan Produktivitas

Lamongan semakin mantap sebagai produsen padi terbesar nomor satu di Jawa Timur, dengan produksi mencapai sekitar 1 juta ton gabah kering giling (GKG) per tahun. Produktivitas rata-rata sawah berada di kisaran 5,5–6 ton per hektare, sedikit di atas rerata nasional ±5,2 ton/ha.

Indeks Pertanaman (IP) sekitar 1,5–1,6 menandakan intensitas tanam lebih dari satu kali per tahun, indikator penerapan budidaya pertanian yang unggul dan efektif. Diversifikasi hortikultura juga tumbuh.

Melon mencatat produktivitas ±16–18 ton/ha, sementara sentra durian lokal berkembang dengan peningkatan luas tanam. Secara ekonomi, diversifikasi ini menaikkan margin petani karena harga hortikultura cenderung lebih elastis dibanding beras.

Dengan kontribusi pertanian yang masih di atas 30 persen terhadap PDRB daerah, stabilitas produksi pangan menjadi jangkar ekonomi Lamongan.

Perikanan dan Peternakan: Nilai Tambah Berbasis Sumber Daya

Produksi perikanan budidaya mencapai puluhan ribu ton per tahun dengan nilai ekonomi sekitar Rp1–1,5 triliun. Tambak pesisir utara serta perairan umum daratan menopang suplai protein regional. Rata-rata pertumbuhan produksi budidaya 3–5 persen per tahun menunjukkan keberlanjutan sektor ini.

Sementara itu, populasi sapi potong dan unggas relatif stabil dengan tren peningkatan produksi daging 2–4 persen per tahun. Integrasi pertanian–peternakan (pemanfaatan limbah sebagai pakan/pupuk) memperkuat efisiensi biaya dan mendukung praktik circular economy di tingkat desa.

Infrastruktur dan Konektivitas: Efisiensi Ekonomi

Setelah bertahun-tahun tak kunjung terealisasi, di era kepemimpinan Yuhronur-Dirham Jalan Lingkar Utara (JLU) Lamongan akhirnya bisa beroperasi. JLU secara nyata mampu menurunkan beban kemacetan jalur Pantura yang selama ini menjadi momok, dan mempercepat waktu tempuh distribusi.

Secara teoritis, penurunan waktu logistik 10–20 persen dapat menekan biaya transportasi hingga 5–10 persen, efek yang signifikan bagi perdagangan dan UMKM. Ditambah integrasi mobilitas dengan layanan Trans Jatim yang nyaman dan murah, memperluas akses tenaga kerja dan pelajar ke pusat ekonomi regional.

Sukses itu merupakan hasil komunikasi dan koordinasi yang kuat Pemkab Lamongan dengan Pemprov Jatim dan pusat di bawah kepemimpinan Yuhronur-Dirham.

Sedangkan, untuk pembangunan infrastruktur jalan dilakukan bertahap akibat keterbatasan fiskal. Namun, rasio belanja modal yang dijaga di kisaran 20 persen APBD menunjukkan komitmen mempertahankan investasi publik jangka panjang di tengah penurunan transfer pusat.

Investasi: Momentum dan Daya Tarik

Realisasi investasi Lamongan dalam dua tahun terakhir berada pada kisaran triliunan rupiah per tahun, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 8–12 persen, sejalan atau sedikit di atas rerata pertumbuhan investasi Jawa Timur. Sektor dominan meliputi industri pengolahan, pergudangan-logistik, perikanan terpadu, dan properti.

Terbaru, pabrik pakan ternak terbesar se-Asia Tenggara siap berdiri di Kota Soto tersebut.

Tiga faktor kunci menopang daya tarik ini: (1) akses Pantura dan kedekatan dengan kawasan industri Jawa Timur, (2) ketersediaan bahan baku dari pertanian-perikanan lokal, dan (3) kemudahan perizinan berbasis OSS serta pelayanan terpadu.

Dalam kerangka regional competitiveness, kombinasi infrastruktur, kepastian regulasi, dan stabilitas sosial menjadi penentu arus modal masuk.

Pendidikan dan Kesehatan: Kualitas Pembangunan Manusia

Perluasan beasiswa daerah meningkatkan partisipasi pendidikan dasar, menengah hingga tinggi. IPM Lamongan kategori tinggi mencapai 76,81 pada 2025 dan terus menunjukkan tren naik.

Di bidang kesehatan, pembangunan RSUD baru dan fasilitas baru di wilayah Pantura memperluas akses layanan; peningkatan alat diagnostik modern mengurangi rujukan keluar daerah dan menekan biaya tidak langsung warga.

Tantangan dan Prospek

Beberapa agenda strategis perlu dipercepat, antara lain hilirisasi produk pertanian-perikanan agar nilai tambah tidak keluar daerah, peningkatan kualitas SDM berbasis vokasi industri untuk mengurangi pengangguran dengan memanfaatkan pertumbuhan investasi, secara konsisten meningkatkan pembangunan infrastruktur, serta mitigasi banjir berbasis tata ruang dan infrastruktur air.

Namun secara umum, indikator kuantitatif, produksi pangan, pertumbuhan investasi, konektivitas infrastruktur, serta peningkatan kualitas layanan public, menunjukkan tren positif

Secara kuantitatif dan kualitatif, tren satu tahun terakhir menunjukkan Lamongan terus bergerak menuju akselerasi daya saing. Dengan konsistensi kebijakan dan kolaborasi lintas level pemerintahan, Lamongan berpeluang menjadi model kabupaten agraris-maritim yang tangguh dan ramah investasi di Jawa Timur dalam rangka menuju kejayaan. (feb)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#perikanan #Melon #Jawa Timur #pantura #peternakan #jalan lingkar utara #budidaya #Dirham Akbar Aksara #Investasi #Ekonomi #produsen padi #Yuhronur Efendi #bupati lamongan #padi #kepemimpinan #pemkab lamongan #gabah kering #lamongan #jlu