Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Radar Bojonegoro Angkat Isu Konvergensi Industri Media Massa dan Media Sosial Lewat Kuliah Praktisi

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 15 Januari 2026 | 18:44 WIB
KULIAH PRAKTISI: Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro, Bachtiar Febrianto mengisi kuliah praktisi di FISIP Unigoro kemarin.
KULIAH PRAKTISI: Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro, Bachtiar Febrianto mengisi kuliah praktisi di FISIP Unigoro kemarin.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan menyapa mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro) dalam kuliah praktisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Kamis pagi (15/1). Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro, Bachtiar Febrianto berkesempatan menjadi pemateri kuliah praktisi tersebut.

 

Dalam kuliah bertajuk “Urgensi Media Sosial Sebagai Strategi Konvergensi dalam Industri Media Massa” tersebut, Bachtiar menyoroti pergeseran sumber informasi oleh masyarakat Indonesia di era modern, dari media massa ke media sosial. Layaknya pisau bermata dua, pergeseran ini memiliki sisi baik dan buruk.

 

“Ada beberapa alasan mengapa masyarakat kini lebih gemar mencari informasi melalui media sosial. Pertama, ada audiens aktif, yakni pembaca berita atau informasi dapat berinteraksi dengan orang yang menyajikan informasi tersebut. Sebaliknya, siapapun bisa memberikan informasi tersebut, dan menumbuhkan jurnalisme sipil (citizen journalism),” ujar Bachtiar membuka kuliah tersebut.

 

Baca Juga: Kuliah Praktisi FISIP Unigoro, Direktur Radar Bojonegoro Kupas Strategi Konvergensi Industri Media Massa

 

Selain itu, informasi dapat tiba dalam waktu instan, dan tidak terbatas pada lingkungan tertentu saja. Siapapun bisa mengakses berita dan informasi dari berbagai penjuru dunia. “Dan, saat ini masyarakat Indonesia juga tergolong sangat aktif dalam mengakses media sosial, penelitian terbaru menunjukkan bahwa rerata orang Indonesia mengakses media sosial tiga jam sehari,” tambah pria asal Lamongan tersebut.

 

Namun, konsekuensinya, masyarakat juga kesulitan memilah mana informasi yang asli atau palsu, berhubung berita di media sosial kerap kali tidak memiliki verifikasi atau konfirmasi kebenaran informasi. Sehingga, pembuat informasi dapat bebas memanipulasi informasi yang disajikan sesuai kemauan sendiri.

 

“Orang dapat bebas memberikan informasi sesuai seleranya, meskipun kenyataannya tidak benar. Sehingga berpotensi menyesatkan masyarakat yang menerima informasi, apalagi jika kemudian disebarluaskan dengan cepat,” papar Bachtiar.

Dari fenomena ini, masyarakat saat ini masuk ke dalam era post-truth atau pascakenyataan. Hal ini berbahaya, karena masyarakat jadi terikat oleh informasi-informasi yang tidak jelas asal-usulnya, namun sejalan dengan opini dan keyakinan yang dimiliki, sehingga memperkuat penyebaran disinformasi.

 

“Kebenaran di dunia saat ini ditentukan oleh logika manusia. Fakta yang ada justru kalah oleh emosi dan keyakinan pribadi. Jadi, mereka sudah tidak peduli lagi meskipun informasinya salah, tetap informasi yang sesuai selera yang didukung,” ujar Bachtiar.

 

Hal tersebut dapat diperparah dengan algoritma media sosial yang mengatur alur informasi sesuai kegemaran pengguna. Sehingga fakta dan kebenaran yang ada dapat tenggelam oleh informasi yang lebih viral, meskipun tidak benar. “Kalau zaman sekarang istilahnya no viral, no justice,” tambahnya.

 

Berkaitan hal tersebut, pemberitaan di media sosial sering tidak memenuhi kaidah jurnalistik, dan konsekuensi yang diberikan juga tidak setegas media massa. Keunggulan media massa, terutama arus utama (mainstream) terletak pada aspek pertanggungjawaban, profesionalisme dan etika dalam menyampaikan informasi.

 

Baca Juga: Sukses Gelar KI Awards Jatim 2025, Tim Event Radar Bojonegoro Bangun Penguatan Kolaborasi Pentahelix

 

“Kalau di media massa, setiap berita wajib memiliki konfirmasi dari narasumber, kemudian disunting kembali oleh editor dengan pertanggungjawaban jelas. Di media sosial, tidak hanya informasi dapat disajikan sekenanya, pemberi informasi juga dapat berlindung di balik nama samaran atau nama panggilan saja,” ungkap Bachtiar.

 

Sehingga, untuk menangkal disinformasi dan hoax, perlu ada konvergensi media massa dengan ikut terjun ke ranah media sosial. “Informasi tersedia dalam multi-platform. Tidak hanya media cetak, televisi, dan radio saja, namun juga pembuatan konten di media sosial untuk memberikan informasi,” jelas pria yang sudah lama berkarir di Radar Bojonegoro tersebut.

 

Dengan mengandalkan kecepatan penyebaran informasi media sosial, industri media massa dapat menarik perhatian dan menjangkau audiens secara lebih aktif, sambil memancing agar mereka mau menggali lebih jauh melalui kanal media massa sebagai badan utama.

“Jadi, misal di kanal media sosial kami disajikan foto atau video berita, dengan hanya judul dan narasi singkat. Kemudian diberi catatan agar jika ingin tahu lebih lanjut, dapat mengakses website berisi berita yang lengkap. Kita ambil contoh berita sepak bola, nanti di media sosial hanya ditulsi skor akhir, kemudian baru di website dijelaskan jalannya pertandingan,” papar Bachtiar.

 

Selain itu, keterlibatan media massa arus utama di media sosial dapat menjadi verifikator berita dan isu yang menyebar luas di kalangan masyarakat, sehingga membantu meluruskan informasi.

 

“Jadi, jika isu tersebut tidak ikut diangkat media massa, kemungkinan besar isu atau berita tersebut tidak benar,” tambahnya.

 

Baca Juga: Jawa Pos Radar Bojonegoro Perkuat Sinergi dengan Pertamina EP Cepu

 

Sehingga di era pascakebenaran, media sosial dan media massa sama-sama memiliki peran yang vital dalam penyebaran informasi di masyarakat, dan keduanya dapat digabungkan oleh industri media massa untuk menyebarkan informasi yang kredibel dan terverifikasi.

 

“Pada saat ini, media sosial mengusasi perhatian publik. Namun, media arus utama tetap ada untuk menjaga kebenaran publik,” pungkas Bachtiar. (edo/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#FISIP #mahasiswa #informasi #universitas bojonegoro #radar bojonegoro #jurnalisme #Konvergensi #mainstream #media massa #Arus Utama #bojonegoro #media sosial #universitas #jawa pos radar bojonegoro