RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Arusgiri Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) adakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) di Gedung Tarbiyah Ruang B1 pada Minggu pagi (12/1).
Dalam pelatihan ini, M. Nurcholis wartawan foto dari Jawa Pos Radar Bojonegoro menyampaikan, bahwa foto jurnalistik tidak hanya asal jepret-jepret saja. Namun, harus memiliki elemen-elemen di dalam foto yang dihasilkan bisa berbicara. Hal ini tentu juga harus tidak boleh lepas dari kaidah dan kode etik jurnalistik (KEJ) karya fotonya. Ada etika yg selalu dijunjung selain foto tersebut memiliki pesan dan informasi yang akan disampaikan ke publik.
"Dalam jurnalistik, foto yang diambil haruslah sesuai dengan kaidah KEJ yang di dalamnya mengandung etika, serta memiliki pesan dan juga informasi yang berupa visual," ujarnya.
Cho, sapaaan akrabnya, menekankan pentingnya etika dalam pengambilan dan pengunggahan foto. Dalam menyampaikan materi teknik mengenai foto jurnalistik, Nurcholis mengingatkan bahwa foto yang diambil dan dibagikan kepada publik harus bebas dari unsur SARA suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
"Sebagai jurnalis, tugas dan tanggungjawab terbesar kita di hadapan publik adalah moral. Sebab, untuk menyajikan informasi berupa visual ini harus akurat dan tidak menimbulkan perpecahan di masyarakat," ujar Nurcholis.
Ia menjelaskan bahwa visual foto yang mengandung unsur SARA dapat memperburuk situasi dan menciptakan ketegangan di antara kelompok-kelompok tertentu.
Menurut Nurcholis, bahwa dalam setiap pengambilan foto, jurnalis harus mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan ketika visual tersebut terpublikasi.
"Kita harus memastikan bahwa foto yang kita ambil dan unggah tidak hanya informatif saja. Tetapi juga mempertimbangkan etika, menjaga keharmonisan dan dampak sosial," ungkapnya.
Dengan demikian, pengambilan dan pengunggahan foto jurnalistik harus dilakukan dengan bijak, mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan. Saling menghormati, agar pesan yang disampaikan tidak hanya jelas tetapi juga membangun, memberi motivasi masyarakat, bukan malah merusak.
Nurcholis menekankan bahwa foto jurnalistik berfungsi untuk bercerita dan memaparkan kejadian secara visual. Menjadikannya alat komunikasi yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat. Foto tersebut tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga mampu berperan sebagai saksi mata dalam menyampaikan realitas di lapangan.
Dalam konteks ini, Nurcholis juga membedakan antara foto spot dan foto feature. Foto spot, atau foto berita, berfokus pada momen penting dalam berita namun lebih bersifat cepat basi. Sedangkan foto feature lebih mendalam dan dapat bercerita lebih banyak tentang suatu peristiwa serta tidak cepat basi.
Foto jurnalistik juga memiliki makna dan peranan tersendiri. Dalam konteks ini ruang lingkup foto jurnalistik adalah manusia. Karena kehadiran foto jurnalistik sebagai saksi mata segi visual, lambang, identitas dan juga kontrol sosial. (ika/cho)
Editor : Yuan Edo Ramadhana