RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Para pencari kerja di Korea Selatan kini menghadapi tantangan baru yang tidak biasa: diskriminasi berdasarkan tipe kepribadian MBTI (Myers-Briggs Type Indicator).
Per Mei 2026, tren perusahaan yang menyaring pelamar berdasarkan 16 tipe kepribadian semakin marak karena pemberi kerja di berbagai distrik seperti Mapo, Seoul, mencari karakter spesifik yang dianggap cocok dengan budaya kantor.
Melalui iklan lowongan kerja di berbagai situs, perusahaan secara terang-terangan mencantumkan tipe yang dicari, biasanya yang berawalan huruf E (Ekstrovert), dan bahkan melarang tipe tertentu seperti ENTJ, INFP, dan INTJ untuk melamar.
Praktik ini memicu perdebatan panas mengenai etika perekrutan dan keunikan individu di dunia kerja.
"Senjata Makan Tuan": Ketika Tes Kepribadian Jadi Alat Penjegal
MBTI sejatinya diciptakan untuk membantu orang memahami keragaman karakter manusia. Namun, di Korea Selatan, alat ini justru beralih fungsi menjadi filter administratif. Kim Jae Hyoung, Kepala Peneliti MBTI Korea Institute, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas fenomena ini.
Baca Juga: 7 Kebiasaan 'Receh' Ini Ternyata Membongkar Kepribadian Asli: Lebih Akurat dari Zodiak dan MBTI
"Tujuan tes MBTI adalah untuk memungkinkan orang memahami bahwa setiap manusia itu unik dan untuk menciptakan dunia yang menghormati perbedaan dan keragaman mereka," kata Jae Hyoung di artikel Korea JoongAng Daily pada 2022 silam.
Ia menegaskan kekhawatirannya terhadap perusahaan yang menggunakan hasil tes sebagai alat saring utama. "Saya khawatir dan prihatin bahwa semakin banyak perusahaan menggunakan hasil tes untuk menyaring pelamar," ujar Kim.
Daftar MBTI yang "Diharamkan" Melamar Kerja
Beberapa perusahaan di Korea Selatan secara spesifik memetakan tipe mana yang mereka anggap produktif dan mana yang dianggap "bermasalah". Contohnya, sebuah kafe di Distrik Mapo menyatakan hanya menerima pelamar dengan huruf depan E (Ekstrovert).
Lebih ekstrem lagi, ada perusahaan yang menuliskan:
-
Dilarang Melamar: ENTJ dan ESFJ.
-
Tipe 'I' Diperbolehkan, Kecuali: INFP, INTP, dan INTJ.
Tipe E sangat diburu karena dianggap lebih mudah bersosialisasi dan mengarahkan energi ke luar, yang dinilai ideal untuk sektor pelayanan dan kerja tim.
9 MBTI Paling Langka di Korea Selatan (Hanya 0,3% - 6%)
Selain isu pekerjaan, sebaran populasi MBTI di Korea juga sangat unik. Beberapa tipe yang dianggap langka ini justru banyak dimiliki oleh Idol K-Pop ternama:
Baca Juga: MBTI dan Kreativitas: Benarkah Tipe Kepribadian Tertentu Lebih Kreatif?
-
ENTP (0,3%): Paling langka! Dimiliki oleh Johnny NCT dan Minhyuk MONSTA X.
-
ESTP (1%): Aktif dan spontan, seperti Jimin BTS dan Taehyun TXT.
-
ENTJ (2%): Meski ramah dan berjiwa pemimpin (seperti Jihoon TREASURE), tipe ini justru sering dilarang di lowongan kerja.
-
ESFP (2%): Ceria dan menonjol, contohnya Jang Wonyoung IVE.
-
ISFP (3%): Si Introvert artistik seperti Winter aespa dan Baekhyun EXO.
-
ESTJ (3%): Tipe organisatoris seperti BamBam GOT7.
-
INFP (5%): Si imajinatif dan peka, namun sering dianaktirikan di bursa kerja.
-
INTJ (5%): Ambisius dan efisien, dimiliki oleh Ryujin ITZY.
-
ENFJ (6%): Sosok hangat seperti Bang Chan Stray Kids.
Peringatan Ahli: Validitas Ilmiah MBTI dalam Rekrutmen
Meskipun populer, banyak psikolog mengingatkan bahwa MBTI bukanlah alat ukur kinerja yang valid. MBTI sering dikritik karena tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk memprediksi kesuksesan profesional. Menggunakan MBTI untuk menolak pelamar kerja bisa dianggap melanggar hak asasi manusia dalam hal kesempatan kerja yang setara.
Bagi Anda di Indonesia, khususnya di wilayah seperti Bojonegoro yang juga mulai demam MBTI, penting untuk diingat bahwa kepribadian bersifat dinamis. Menurut artikel dari Scientific American, tes kepribadian seperti MBTI tidak seharusnya digunakan sebagai penentu tunggal dalam keputusan hidup yang krusial seperti karier.
Baca Juga: 7 Rahasia Kepribadian Orang yang Rajin Bilang Terima Kasih ke Pelayan
"Kepribadian manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar kombinasi empat huruf," pungkas para ahli. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko