RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Problematika transportasi internasional di wilayah Iran masih berlanjut hingga Jumat (10/4). Di tengah diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat yang ditengahi Pakistan, Selat Hormuz kembali ditutup dan hanya dapat dilewati secara sangat terbatas.
Sedianya, Selat Hormuz kembali dibuka pada Rabu (8/4) setelah Iran dan AS mencapai kesepakatan gencatan senjata pada hari tersebut. Namun keesokan harinya, Iran langsung menutup kanal perlintasan kapal tersebut setelah Israel melancarkan serangan rudal ke arah Lebanon yang menewaskan 254 warga setempat.
“Gencatan senjata dan pokok persetujuan yang dikandungnya sudah cukup jelas. AS sekarang tinggal memilih, mau gencatan sungguhan atau lanjut berperang melalui Israel, tidak bisa dua-duanya. Keputusan berada di tangan pemerintahan AS, dan dunia bakal melihat apakah mereka mau bertindak sesuai komitmen mereka,” komentar Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi usai kejadian tersebut pada Kamis (9/4) mengutip dari Fars News.
Sementara itu, sebagai salah satu pihak yang paling menginginkan terbukanya jalur tersebut, Presiden AS Donald Trump tidak mampu menyembunyikan kekesalannya. Donald tanpa ragu menuduh Iran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sebagaimana telah dijelaskan.
“Iran melakukan pekerjaan yang buruk, bahkan bisa dikatakan tidak terhormat, dalam mengatur lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz. Bukan begini kesepakatan kita!” ujar Trump melalui media sosial pribadinya, sebagaimana dikutip dari Al-Jazeera.
Menurut catatan Al-Jazeera, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz setiap harinya kurang dari sepuluh, yakni lima unit kapal pada Rabu dan tujuh pada Kamis. Sebelum perang, jumlah kapal yang berlalu-lalang melewati selat tersebut berkisar antara 120 hingga 140 unit.
Saat ini, diperkirakan ada hingga 600 kapal masih mengantri untuk melintasi Selat Hormuz, kurang lebih setengahnya terdiri dari kapal tanker sektor migas. Iran sendiri telah memberikan dua opsi, yakni antara tetap melintasi Selat Hormuz setelah melakukan koordinasi dengan militer setempat, atau menempuh jalur alternatif yang mereka sediakan.
Akibatnya, harga minyak dunia yang sedianya sudah turun perlahan saat kesepakatan gencatan senjata tercapai kembali naik usai penutupan Selat Hormuz. Minyak bumi mentah (crude oil) jenis Brent mengalami kenaikan dari USD 95 per barel pada Rabu menjadi USD 96,88 per barel pada Jumat.
Kemudian mengacu pada catatan Reuters, crude oil jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak sedikit lebih tinggi, yakni hingga USD 98,65 per barel. Diperkirakan, harga kedua jenis minyak bumi tersebut dapat melesat menembus USD 100 per barel jika tidak ada langkah pembukaan selat.
Dorongan pembukaan kembali Selat Hormuz juga didorong oleh Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yang mengklaim telah jungkir balik membantu AS dalam peperangan melawan Iran. Klaim tersebut dibuat seiring ancaman dari Trump yang berkata ingin mencabut keanggotaan AS dari persatuan blok barat tersebut.
“Semua negara sahabat telah menuruti permintaan AS tampa terkecuali. Kalau kami bisa membantu, tentu kita bakal hadir,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO Mark Rutte pada Kamis. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana