Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Di Balik Kesepakatan Gencatan Senjata Gaza yang Diumumkan Trump: Masa Depan Palestina Masih Dipertanyakan

Bhagas Dani Purwoko • Jumat, 10 Oktober 2025 | 02:45 WIB
SELEBRASI: Usai pengumuman gencatan senjata dari Trump, warga Palestina berselebrasi di Khan Younis. (dok AFP)
SELEBRASI: Usai pengumuman gencatan senjata dari Trump, warga Palestina berselebrasi di Khan Younis. (dok AFP)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja mengumumkan sebuah terobosan diplomatik besar dari Gedung Putih: sebuah kerangka kerja untuk kesepakatan gencatan senjata komprehensif di Gaza.

Pengumuman ini sontak menarik perhatian dunia, memunculkan harapan baru di tengah konflik yang telah berlangsung lama.

Namun, pengumuman ini bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi tiba-tiba. Menurut analisis mendalam dari Al Jazeera, kesepakatan ini merupakan puncak dari diplomasi rahasia berbulan-bulan, pergeseran kebijakan yang signifikan, dan tekanan tingkat tinggi yang melibatkan berbagai negara.

Kerangka Kesepakatan: Tiga Fase Menuju Perdamaian

Meskipun detail lengkapnya masih dirahasiakan, sumber diplomatik yang dikutip Al Jazeera menyebutkan bahwa kesepakatan ini dirancang dalam tiga fase yang saling terkait:

Momen Kunci di Balik Layar: Diplomasi Rahasia dan Pergeseran Tekanan

Keberhasilan mencapai kerangka kerja ini tidak lepas dari serangkaian peristiwa dan manuver diplomatik yang intens.

1. Pergeseran Kebijakan Washington

Awalnya, pemerintahan Trump menunjukkan dukungan yang sangat kuat terhadap Israel. Namun, tekanan domestik yang meningkat di AS, ditambah dengan insiden kemanusiaan besar beberapa bulan lalu yang menuai kecaman internasional, memaksa Washington untuk mengubah pendekatannya.

Menurut analis Al Jazeera, Gedung Putih mulai secara aktif menekan pemerintah Israel untuk lebih fleksibel dalam negosiasi, sebuah pergeseran yang dianggap krusial.

2. Peran Sentral Mediator Regional: Mesir dan Qatar

Selama berbulan-bulan, Mesir dan Qatar menjadi tuan rumah bagi serangkaian perundingan rahasia yang alot. Kairo, dengan hubungan historis dan intelijennya, menjadi fasilitator utama antara delegasi Israel dan Palestina.

Sementara itu, Doha menggunakan salurannya yang unik untuk berkomunikasi langsung dengan pimpinan politik Hamas. Al Jazeera melaporkan bahwa tanpa peran ganda dari kedua negara ini, dialog langsung tidak akan pernah mungkin terjadi.

3. Intervensi Pribadi 'The Dealmaker'

Ketika negosiasi mencapai titik buntu pada tahap akhir, Presiden Trump dilaporkan turun tangan secara pribadi.

Sesuai dengan citranya sebagai "The Dealmaker", ia melakukan serangkaian panggilan telepon langsung kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan para pemimpin Mesir serta Qatar.

Intervensi personal ini diyakini berhasil memecah kebuntuan terakhir dan mendorong semua pihak untuk menyetujui kerangka kerja yang ada. 

Jalan Terjal di Depan: Euforia Dibalut Skeptisisme

Meskipun pengumuman ini disambut dengan optimisme yang hati-hati, para ahli dan pengamat, termasuk yang dikutip oleh Al Jazeera menekankan, bahwa jalan di depan masih sangat terjal dan penuh risiko.

Seorang pejabat Hamas yang berbicara kepada Al Jazeera menyatakan, bahwa mereka sedang mempelajari proposal 20 poin yang dibuat Trump tersebut dengan saksama.

Baca Juga: Turki dan Arab Saudi Dukung Rencana Perancis Akui Kedaulatan Palestina, Australia Masih Pikir-Pikir

Sementara, kantor Perdana Menteri Israel mengeluarkan pernyataan yang mengakui adanya proposal yang sedang dibahas. Tetapi, menekankan, bahwa tujuan perang belum berubah.

Kesepakatan ini adalah langkah maju yang paling signifikan dalam beberapa waktu terakhir, namun kerapuhannya tidak dapat diabaikan.

Keberhasilannya akan bergantung sepenuhnya pada kemauan politik semua pihak untuk berkomitmen pada kompromi yang sulit dalam beberapa minggu dan bulan mendatang.

Diketahui sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengusulkan proposal rencana perdamaian 20 poin untuk mengakhiri perang di Gaza antara Israel dan Palestina setelah mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 29 September 2025.

Ringkasan dari 20 poin proposal rencana perdamaian oleh Trump tersebut:

  1. Gaza akan menjadi "zona bebas teror yang dideradikalisasi".

  2. Gaza akan dibangun kembali untuk meningkatkan kehidupan warganya.

  3. Perang segera berakhir setelah kedua belah pihak setuju, dengan penarikan mundur Israel ke garis yang disepakati dan gencatan senjata.

  4. Semua tawanan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dikembalikan dalam waktu 72 jam setelah Israel menerima kesepakatan.

  5. Israel membebaskan 250 tahanan Palestina yang divonis seumur hidup, 1.700 tahanan lainnya, dan pertukaran jenazah secara proporsional.

  6. Anggota Hamas yang melucuti senjata mereka mendapatkan amnesti atau jaminan keamanan untuk pergi ke luar negeri.

  7. Bantuan kemanusiaan penuh segera masuk untuk membangun kembali infrastruktur penting.

  8. Bantuan mengalir bebas melalui PBB dan Bulan Sabit Merah, perlintasan Rafah dibuka kembali berdasarkan kesepakatan.

  9. Gaza untuk sementara diperintah oleh komite teknokratik Palestina di bawah dewan internasional yang mencakup mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan dipimpin oleh Trump.

  10. Rencana ekonomi Trump untuk membangun kembali Gaza dengan investasi global dan penciptaan lapangan kerja.

  11. Zona ekonomi khusus didirikan dengan persyaratan perdagangan yang menguntungkan.

  12. Tidak ada pemindahan paksa. Warga bebas untuk tinggal, pergi, atau kembali.

  13. Hamas dikecualikan dari pemerintahan, semua senjata dilucuti.

  14. Mitra regional menjamin kepatuhan Hamas dan keamanan.

  15. Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) dikerahkan untuk mengamankan Gaza dan melatih polisi.

  16. Israel tidak akan menduduki Gaza, menarik diri seiring kemajuan stabilitas dan demiliterisasi.

  17. Jika Hamas menolak rencana tersebut, penyerahan wilayah dari militer Israel kepada ISF akan tetap dilanjutkan.

  18. Dialog antaragama diluncurkan untuk mempromosikan "nilai-nilai toleransi dan hidup berdampingan secara damai."

  19. Reformasi membuka jalan bagi "penentuan nasib sendiri dan status negara Palestina".

  20. AS memimpin pembicaraan untuk masa depan politik antara Israel dan Palestina. (bgs)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#gencatan senjata #perdamaian #washington #Khan Younis #palestina #Israel #hamas #gaza #benjamin netanyahu #20 poin proposal Trump