RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Angka ketidaklulusan siswa SMP, SMA, dan SMK di lingkungan Dinas Pendidikan Dareah (Disdikda) Bojonegoro pada 2005 meningkat dibandingkan 2004.
Berdasarkan data disdikda setempat, dari 17.644 peserta ujian nasional SMP, SMA, dan SMK 2005, 1.143 di antaranya atau 6,48 persen tak lulus.
Dibandingkan 2004, tingkat ketidaklulusan siswa 2005 lebih tinggi. Terlebih di 2004 siswa yang tidak lulus ujian akhir nasional (UAN) hanya 5 persen.
Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada Juli 2005, Kepala Disdikda Bojonegoro Mardikun melalui Kasubdin Pendidikan Menengah Zainuddin mengatakan, siswa yang paling banyak tidak lulus dari sekolah swasta.
‘’Kalau sekolah negeri paling-paling hanya ada sekitar 2 hingga 5 persen siswanya yang tidak lulus," ujarnya kala itu
Zainuddin menjelaskan, untuk sekolah swasta, ada yang 100 persen siswanya tidak lulus. Sekolah itu, yakni SMK Hidayatul Mubtadiin, Balen dan SMK Nuswantara, Kapas.
Baca Juga: Radar History: Tertibkan Penambang Pasir Liar
Sedangkan SMA PGRI Ngasem tingkat ketidaklulusan siswanya 75 persen, dan SMA PGRI Ngambon 42,31 persen.
Sedangkan untuk sekolah yang seluruh siswanya lulus antara lain SMAN 1 Bojonegoro, SMAN 2 Bojonegoro, SMA Al Fatah Kalitidu, SMAN Kalitidu, SMAN Padangan, SMAN Sumberrrejo, dan SMAN Baureno.
Sementara itu, untuk tingkat SMP, sekolah yang semua siswanya lulus antara lain SMPN 1 Bojonegoro, SMP PGRI Bojonegoro, SMPN 1 Kalitidu, SMPN 1 Ngasem, dan SMPN 2 Ngasem.
Menurut Zainuddin, tingkat ketidaklulusan tersebut belum memenuhi harapan. Namun dinilai sebagai momentum terbaik untuk menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan.
Meski tingkat ketidaklulusan cukup tinggi, Zainuddin mengaku angka tersebut masih di bawah angkat ketidaklulusan tingkat Jatim yang mencapai 7 persen. Selain itu, meski tingkat kelulusan siswa Bojonegoro menurun, namun rerata nilai siswa SMA Bojonegoro masih menduduki peringkat II Jatim IPA, yakni diraih jurusan IPA SMAN 1 Bojonegoro.
Terhadap siswa yang tidak lulus akan diberi bimbingan belajar dengan program remedial sebelum mengikuti ujian tahap kedua.
Terkait peluang siswa yang tidak lulus untuk mengikuti penerimaan siswa baru (PSB) karena PSB dilakukan sebelum ujian tahap kedua, menurut Zainuddin akan ada program PSB bersyarat bagi siswa yang tidak tersebut.
Bagaimana jika tetap tidak lulus? Zainuddin menjelaskan yang tidak lulus dalam ujian tahap kedua bisa mengulang di sekolah yang sama atau mengikuti program paket B maupun C.
Sementara di Blora, 4.200 siswa lulus. Sesuai hasil pengumuman diketahui bahwa 4.200 siswa yang mengikuti unas dinyatakan tidak lulus. Mereka terdiri dari siswa SMP, MTs dan SMA/MA/SMK negeri dan swasta.
Baca Juga: Radar History: Proyek Jembatan Kalitidu dan Malo Telan Rp 30 M
Karena itu, dinas pendidikan nasional (diknas) setempat menyatakan prihatin. "Kita benar-benar prihatin dengan hasil ini," kata Kepala Diknas Blora Basuki Sudjono melalui Kasi Kurikulum SMP/SMA Aunur Rofiq.
Menurut catatan diknas, pada 2005 ada 11.859 siswa SMP/MTs negeri dan swasta yang mengikuti unas. Dari jumlah itu yang lulus 9.904 siswa atau 83,51 persen, sedangkan yang tak lulus mencapai 1.955 siswa.
Secara rinci Rofiq mengatakan, unas di SMP negeri diikuti oleh 8.137 siswa, yang lulus 6.991 siswa atau 85,92 persen, sedangkan yang tak lulus mencapai 1.146 siswa. SMP swasta lebih parah lagi. Dari total peserta unas 1.550 siswa yang lulus hanya 999 atau hanya 65,45 persen, sedangkan yang tak lulus mencapai 551 siswa.
Di MTs juga demikian. MTs negeri yang unasnya diikuti 162 siswa yang lulus 140 siswa atau 86,42 persen, sedangkan yang tak lulus 22 siswa. Di MT swasta, unas yang diikuti 2.010 siswa yang lulus 1.774 siswa atau 88,26 persen. Sedangkan 236 siswa tak lulus.
Total kelulusan SMP/MTs mencapai 88,12 persen. ‘’Masih cukup baik tingkat kelulusan SMP dan MTs,” ungkap Rofiq.
Sedangkan untuk siswa SMA dan MA negeri dan swasta tingkat kelulusannya hanya mencapai 67,37 persen. Kenyataan itu jauh dari target kelulusan yang ditetapkan diknas yang mencapai 80 persen. Untuk unas di SMA negeri dan swasta program IPA diikuti 1.104 siswa yang lulus 948 siswa atau 85,87 persen. Untuk program IPS diikuti 2.123 siswa yang lulus 1.396 siswa atau hanya 65,76 persen. Untuk program bahasa, malah di SMAN 1 Cepu seluruh muridnya (17 anak) tidak lulus, sedangkan di SMA Katolik Cepu dari 12 siswa yang ikut program itu hanya 7 siswa yang lulus.
Baca Juga: Radar History: Kala SPBU Kehabisan Stok BBM
Masih menurut Rofiq, untuk MA negeri dan swasta program IPA yang diikuti 168 siswa hanya lulus 101 siswa atau 60,12 persen. Untuk program IPS yang diikuti 343 siswa yang lulus hanya 156 siswa atau banya 45,48 persen. Sementara untuk SMK negeri dan swasta yang terdiri dari program bisnis manajemen dan teknologi industri unas diikuti 3.051 siswa yang lulus 2.034 siswa atau 66,67 persen.
Dari fakta yang di lapangan, Rofiq mengungkapkan kalau rata-rata nilai unas siswa yang tak lulus jatuh di mata pelajaran Bahasa Inggris. (irv/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko