Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro meluap pada 6 April 2005 silam. Akibatnya, puluhan desa dan kelurahan di 15 kecamatan di Kota Ledre itu terendam.
Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada edisi 7 April 2005, banjir kala itu menggenangi 71 desa dan kelurahan di 15 kecamatan yang selama ini diidentifikasi sebagai daerah rawan banjir.
Air menggenangi perumahan dan ratusan lahan pertanian yang tersebar di puluhan desa dan kelurahan yang diterjang banjir tersebut. Untungnya sebagian lahan pertanian tersebut usai panen dan hendak ditanami padi lagi. Misalnya sawah-sawah di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander.dan sebagian desa di Kalitidu.
Sejumlah warga Kelurahan Ledok Wetan mengatakan, banjir mulai datang Selasa (5/4/2005) malam sekitar pukul 23.00. Ketika itu air belum masuk lorong perkam pungan di kelurahan tersebut.
"Sekitar pukul 06.00 pada Rabu (6/4/2005), air mulai sampai jalanan sampai 10 cm," kata Suparto, warga Ledok Wetan.
Baca Juga: Radar History: Saat Menteri Kehutanan Sebut TNI Terlibat Kasus Pembalakan Liar pada 2005 Silam
Tiga jam kemudian, lanjut purto, luberan air sudah merata menggenangi perumahan warga. Di jalan-jalan yang ada di Ledok Wetan, ketinggian air mencapai selutut orang dewasa atau sekitar 60 cm. Bahkan, beberapa rumah warga yang berada tak jauh dari Bengawan Solo mulai masuk kemasukan air dengan ketinggian sekitar 10 cm.
Koordinator Posko Penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi (PBP) Bojonegoro Pudjiono mengatakan, banjir kala itu akibat hujan deras di beberapa daerah hulu Bengawan Solo. Antara lain, Madiun, Ngawi, dan Solo.
"Kalau hujan di daerah selatan (hulu) itu, pasti airnya langsung meluber ke Sungai Bengawan Solo dan membuat banjir," jelasnya.
Menurut dia, ketinggian air perlahan tapi pasti terus bergerak naik. Berdasarkan data di papan duga yang ada di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Bojonegoro, ketinggian permukaan air Bengawan Solo pada pukul 09.00 mencapai 15,49 pheilscal. Sedangkan di Bendungan Karangnongko, Ngraho, ketinggian air pada pukul 06.00 mencapai 29.10 pheilscal. Namun hingga pukul 12.00 ketinggian air di papan duga di Jalan jaksa Agung Suprapto mencapai 15.70 pheilscal.
Ketika banjir terjadi Pudjiono mengaku sudah menyiapkan beberapa persiapan untuk melakukan. antisipasi penanganan banjir. Di antaranya menyiapkan 2 unit perahu karet, 3 tenda berukuran sedang, dan beberapa paket semibuke. "Khusus untuk sembako, ditangani langsung kantor KB dan kessos," katanya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana