Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Radar History: Ketika Anggota TNI/Polri Masuk DPS Pilkada Blora Periode 2005 Silam

Y
ARSIP: Dalam arsip koran Jawa Pos Radar Bojonegoro April 2005 disebutkan anggota TNI/Polri masuk daftar pemilih dalam Pilkada. (DOKUMENTASI RADAR BOJONEGORO)
ARSIP: Dalam arsip koran Jawa Pos Radar Bojonegoro April 2005 disebutkan anggota TNI/Polri masuk daftar pemilih dalam Pilkada. (DOKUMENTASI RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

 

Jika di Lamongan TNI/Polri terlibat dalam pencurian kayu kelas kakap pada 21 tahun silam, tepatnya April 2005. Di Kabupaten Blora terjadi kasus 1.732 pemilih siluman dalam daftar penduduk potensial ternyata anggota TNI/Polri. Polres, Kodim 0721, dan Batalyon 410 Alugoro pun protes dan berkumpul membahas hal tersebut.


Advertisement

Dalam perkumpulan, Kapolres AKBP Zainal Arifin Paliwang mengaku berang dengan munculnya daftar nama-nama TNI/Polri dalam daftar pemilih sementara (DPS) yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Blora tersebut. Menurutnya, nama-nama yang muncul tidak sesuai. Ada yang sudah pindah atau meninggal.

"Ini yang kami pertanyakan, ada apa di balik semua ini? Jangan-jangan ada yang sengaja mendesain agar Blora tidak kondusif," katanya.

Kalau dugaan itu benar, kata dia, jumlah seluruh anggota TNI/Polri di Blora bukan 1.732, tapi hanya 1.615. Yakni, 619 anggota polri, 366 dari Kodim 0721, dan 630 personel Yon 410 Alugoro.

Advertisement

Kejadian itu, lanjut dia, mengesankan bahwa TNI/Polri masih ingin ikut dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Padahal, sesuai PP Nomor 6/2003, TNI/Polri netral, sehingga tak punya hak pilih. "Ini bisa menjadikan rakyat antipati kepada kami. Makanya kami perintahkan kapolsek mendata personelnya agar jelas," ujar dia.

Hal serupa dikatakan Dandim 0721 Blora Letkol Inf. Dwi Sri Yudhanarko. Dia mengaku kaget ketika tahu bahwa nama-nama anggotanya masuk daftar pemilih, namun profesinya diganti. Karena itu, dia minta persoalan tersebut segera diluruskan agar tak terjadi kesalahpahaman. ''Harus segera diambil tindakan,'' katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Slamet Pamuji mengatakan, kesalahan itu terletak pada daftar penduduk yang dikirim dari departemen dalam negeri (depdagri). Sebelumnya dia sudah berkoordinasi dengan KPUK untuk menyelesaikan kesalahan tersebut. Sebagai bukti, dia membeber datanya.

''Jadi ini kesalahan program dari pusat. Saat ini KPUK (Blora) sedang melaksanakan validasi data itu," katanya.

Seusai dari polres, KPUK menggelar pertemuan serupa yang di hadiri panwas, polres, serta kantor kependudukan dan capil. Pertemuan ini untuk koordinasi penyelesaian persoalan tersebut.

Advertisement
Editor : Yuan Edo Ramadhana
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Radar History: Saat Siswa SDN I Donan Terpaksa Belajar tanpa Bangku Akibat Ambruknya Ruang Kelas pada 2005 Lalu

Radar History: Saat Siswa SDN I Donan Terpaksa Belajar tanpa Bangku Akibat Ambruknya Ruang Kelas pada 2005 Lalu

Agar tetap bisa melangsungkan kegiatan belajar mengajar, anak-anak itu terpaksa belajar dengan fasilitas yang terbatas. Yakni, di atas sebuah terpal biru berukuran sekitar 8x8 meter, di ruang tamu rumah

Radar History: Ketika SDN 1 Donan Sempat Ambruk pada 2005 Silam, Dipicu Kayu yang Sudah Lapuk

Radar History: Ketika SDN 1 Donan Sempat Ambruk pada 2005 Silam, Dipicu Kayu yang Sudah Lapuk

Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada Juni 2005, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ambruknya salah satu ruang kelas SDN yang dibangun sejak 1981 melalui dana rehabilitasi pemerintahan desa setempat tersebu

Radar History: Ketika Bojonegoro Digegerkan dengan Dugaan Kasus Virus SARS pada 2003

Radar History: Ketika Bojonegoro Digegerkan dengan Dugaan Kasus Virus SARS pada 2003

Masyarakat Bojonegoro sempat digemparkan oleh kasus seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) di Singapura yang diduga terjangkit virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada Mei 2003. TKI bernama Kasih tersebut harus

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer