Sejumlah pelajar SMK menggelar festival film dokumenter berjudul Brain Wash yang bermakna Memaksa. Mendorong mereka melampaui keterbatasan dan merampungkan tugas selama tiga bulan.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
TERIK matahari menyorot halaman parkir SMKN 1 Bojonegoro, Kamis (9/4) pagi. Jajaran aneka busana dipamerkan di depan pintu masuk, menandai dimulainya Uji Kompetensi Keahlian (UKK). Ada hal menarik dari ujian kali itu. Di sudut selatan menuju lorong barat berjajar beragam poster.
Terdapat gambar seduhan kopi, rawon blonceng, hingga ender-ender khas Bojonegoro. Ternyata, lorong tersebut mengarah ke pemutaran tujuh film dokumenter karya pelajar Desain Komunikasi Visual (DKV). Ide ini segar dan menonjol, sekaligus memacu kreativitas serta mengembangkan potensi siswa.
Langkah tim Jawa Pos Radar Bojonegoro pun mengarah pada pertemuan dengan Wali Kelas XII DKV SMKN 1 Bojonegoro, Ferry Perdana Putra. Ia menjelaskan maksud digelarnya festival film dokumenter tersebut.
"Festival Film Dokumenter Pelajar 2026 bertema Brain Wash yang berarti ‘memaksa’, yakni peserta diharapkan mampu melampaui batas dalam proyek pembuatan video dengan cara mengolah pola pikir mereka," tutur Ferry, yang akrab disapa Fe.
Ia menambahkan, kegiatan ini bertujuan membiasakan pelajar berpikir kreatif melalui produksi konten berdasarkan brief, target waktu, dan standar industri. Setidaknya ada tujuh karya film, trailer, dan poster yang ditampilkan dalam gelaran karya siswa tingkat akhir tersebut.
Karya-karya itu mengangkat beragam tema, mulai dari film berjudul Rasa Percaya yang menceritakan perjalanan penjual warung kopi di pasar kota, ender-ender sebagai jajanan tradisional yang perlu dilestarikan, rawon blonceng yang belum banyak dikenal, rumah makan bernuansa tradisional, kisah penjahit, olahan gipang, hingga makanan berbahan dasar krecek.
"Dalam produksi film dokumenter ini, siswa terbagi dalam tujuh kelompok atau tim produksi. Tema Brain Wash dipilih karena selama tiga bulan menjelang UKK, siswa juga telah membuat karya film pra-UKK dengan durasi lebih pendek," jelasnya.
Menurut Fe, selama tiga bulan terakhir para pelajar benar-benar mengasah ide agar proyek mereka selesai tepat waktu. Hal ini menekankan pentingnya manajemen waktu, terlebih mereka tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga praktik langsung di lapangan.
"Karya dalam festival ini berdurasi sepuluh menit dan satu menit untuk trailer. Terdapat penghargaan untuk kategori film dan poster yang diperebutkan oleh tujuh kelompok produksi. Festival ini melibatkan juri eksternal dari luar kota, serta apresiasi dan kolaborasi dari EJSC Bojonegoro (East Java Super Corridor) Bakorwil," paparnya.
Salah satu anggota kelompok 7, Talina Agustin, mengatakan bahwa timnya mengangkat judul Pawon Krecek. Ia bersama rekan-rekannya ingin mengangkat UMKM yang memproduksi krecek sebagai bahan baku kerupuk rambak.
"Selain membantu UMKM, kami juga ingin mengangkat kisah inspiratif. Dahulu pemilik usaha ini adalah buruh, kini mampu membuka usaha sendiri di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas. Cerita ini diharapkan dapat menjadi edukasi bagi anak muda Bojonegoro," ujar Talina.
Sementara itu, Siska Ayu Puspitasari dari kelompok 6 mengungkapkan hal serupa. Ia bersama timnya mengangkat film berjudul Menolak Punah Manisnya Gipang. Mereka mengeksplorasi UMKM jajanan tradisional gipang di Desa Lengkong, Kecamatan Ngasem, yang masih bertahan di tengah gempuran jajanan modern.
"Selain untuk menyelesaikan UKK, kami juga ingin membantu pelaku UMKM agar gipang semakin dikenal masyarakat luas, terutama generasi Z. Kami berharap usaha ini semakin maju dan mampu membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar," ujar Siska penuh semangat. (yna/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana