Beragam jenis tanaman herbal dirawat Sri Asih dengan penuh ketelatenan. Melalui usaha Rumah Toga, memberi harapan baru menopang kehidupan ekonomi keluarganya
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
SALAH satu pekarangan rumah warga Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas tampak dipenuhi berbagai jenis tanaman. Rumah tanaman obat keluarga (Toga) itu milik Sri Asih. Sekitar 70 jenis tanaman herbal yang dimanfaatkan untuk berbagai macam obat dirawat dengan telaten, penuh doa, dan harapan.
Kurang lebih sekitar satu tahun Rumah Toga yang terletak di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas itu berdiri. Perjalanannya bermula dari hal sederhana. Sri sapaan pemilik Rumah Toga, memiliki hobi menanam, tanpa tahu khasiat lebih yang dikandung setiap pohonnya. Tanaman-tanaman tersebut mulanya hanya sebatas pelengkap bumbu dapur.
Namun ketika lomba desa antar RT digelar, arah hidupnya berubah. Dari juara tingkat RT, melesat ke lomba berseri tingkat provinsi, lalu meraih juara lagi di lomba Asman Toga tingkat kabupaten. Seolah tanaman-tanaman itu ikut menuntunnya menemukan jalan baru.
Hingga akhirnya, mendapat bantuan CSR dari perusahaan migas di Bojonegoro. Membantu menghadirkan dr. Rianti Maharani, ahli herbal dari Carios, bersama tim pendamping yang sabar membimbing.
Sri benar-benar membuka mata, setiap daun menyimpan manfaat, setiap rimpang menyimpan ikhtiar kesembuhan.
“Alhamdulillah ilmunya bermanfaat, untuk saya dan keluarga. Bahkan bisa membantu orang yang percaya minum jamu herbal bisa berangsur sembuh dan tidak tergantung pada obat kimia,” ujarnya.
Kini, dari sambiloto, kumis kucing, kelor, tempuyung, binahong, bawang Dayak, meniran, kunyit, temulawak, insulin, pegagan, pecut kuda, bayam Brasil, daun mint, hingga berbagai tanaman dedaunan sejuta manfaat lainnya tumbuh subur menjadi lumbung obat.
Dia bersyukur, dengan usaha Rumah Toga tersebut bisa membantu keluarga dari sisi ekonomi. Juga, mengobati orang-orang yang memiliki keluhan sakit.
“Ada rasa puas, melalui konsumsi obat herbal saya, orang bisa sembuh. Rasanya ada kepuasaan tersendiri,” bebernya.
Pesanan bibit pun mengalir. Kunyit, jahe, hingga kencur. Meski masih didominasi pemesan dari lokal Bojonegoro. Namun, bulan lalu tepatnya, produk tanamannya dikirim hingga Lampung dan Jakarta.
“Untuk pemasarannya, hingga hari ini masih dari mulut ke mulut,” terangnya.
Bersama anak dan suami, Sri tekun merawat tanaman demi tanaman untuk kebermanfaatan. Meski harus telaten merawat, terlebih saat kemarau harus rutin disiram. Namun, ia menikmati setiap prosesnya dengan bahagia.
Dengan harapan, usaha yang digelutinya bisa menjadi usaha herbal yang lebih maju. Dikenal banyak orang hingga luar kota. Juga, membantu banyak orang yang membutuhkan. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana