Heri Septya Kusuma mengharumkan nama Bojonegoro di kancah global setelah berhasil masuk Top 2 Percent Scientists in The World atau 2 persen ilmuan terbaik di dunia.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
MEMULAI karir menjadi dosen sejak 2021 di Jurusan Teknik Kimia Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Heri Septya Kusuma bisa menyalurkan gagasan, ide, dan passion-nya. Yakni menghubungkan laboratorium dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam satu kesempatan, Heri menyampaikan, risetnya tak jauh dari pemurnian air dengan adsorpsi atau absorben.
Pemanfaatan biomassa dan limbah menjadi produk bernilai seperti minyak atsiri atau essential oils serta drying atau pengeringan. Mulai dari kinetika pengeringan hingga optimasi proses agar produk lokal lebih efisien diolah dan kualitasnya terjaga.
"Motivasi sehari-hari saya sederhana, melihat masalah di sekitar misal air, limbah, hasil pertanian, komoditas aromatik lalu mengembangkannya ke lapangan dalam bentuk solusi yang bisa dipakai," ucapnya.
Bagi dia, yang paling membahagiakan adalah saat mahasiswa bertumbuh dan mitra di lapangan berkata, ini bisa kami implementasikan.
Berkat hasil eksperimen dan ketekunan itu, pria kelahiran 1991 ini berhasil meraih pengakuan Top 2 Percent Scientists in The World. Sederhananya, ini peta ilmuan paling berpengaruh berdasarkan dampak sitasi.
"Seberapa sering karya dikutip atau dipakai peneliti lain pada periode tertentu (single year impact) atau sepanjang karir (career-long year impact). Dari lebih 200 juta penduduk Indonesia, jumlah ilmuan yang tembus daftar ini hanya puluhan hingga ratusan orang," katanya.
Pada periode 2021-2022 ada 98 nama dari Indonesia; 2022-2023 ada 92 nama; 2023-2024 ada 150 orang; dan di 2024-2025 ada 209 orang. Menurutnya, dibanding populasi yang ada sekitar setengah hingga satu orang per sejuta penduduk. "Ibarat satu stadion berisi sejuta orang hanya satu yang muncul di daftar tahun itu," imbuhnya.
Heri mengungkapkan, motivasi personal sampai di titik ini berawal dari kebiasaan kecil yang diulang terus. Setiap hari dia menarget membaca dan meringkas literatur, menulis paragraf demi paragraf, membimbing mahasiswa di laboratorium, dan merawat kolaborasi.
Dia berharap, pemuda Bojonegoro bisa mengikuti jejak serupa. Salah satunya dengan cerita tagline dari kementerian, Diktisaintek Berdampak. Memulai dari satu masalah yang dekat. Seperti air keruh di desa, residu pertanian yang belum bernilai, atau proses pengeringan komoditas lokal yang boros energi.
"Roh Diktisaintek Berdampak, ilmu yang turun ke tanah meninggalkan jejak manfaat di masyarakat. Seraya tetap terukur secara ilmiah sehingga ditingkatkan lagi. Bila pola dilakukan berulang, satu masalah menjadi satu siklus dan satu keluaran," tuturnya.
Di level individu, kata dia, anak-anak muda Bojonegoro bisa memulai hari ini. Memilih satu masalah terdekat, tulis pertanyaannya, cari tiga artikel paling relevan, lalu coba satu percobaan kecil dengan alat apa adanya.
Dia menegaskan, yang terpenting terukur dan terdokumentasi.
Heri tidak hanya sekali masuk dalam jajaran top ilmuan dunia. Pada 2024 peringkat 204.768 dari 230.333 akademisi di dunia dan peringkat 38 dari 57 akademisi di Indonesia. Di tahun yang sama peringkat 23.170 dari 236.313 akademisi di dunia dan peringkat 9 dari 209 akademisi di Indonesia.
Kemudian, Top 2 Percent Scientists in the World: Single Year Impact 2021-2022 (Stanford University and Elsevier BV) peringkat 68 dari 98 di Indonesia; pada 2022-2023 peringkat 16 dari 92 di Indonesia; dan di 2023-2024 peringkat 10 dari 150 di Indonesia. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana