Rejo atau akrab disapa Mbah Jo tak kenal lelah. Meski sudah berusia 72 tahun, dia masih kuat dan bersemangat berkeliling jualan es wawan. Mulai pagi hingga sore ia keliling di wilayah Kecamatan Baureno.
Jessy Nora Sandy dan Lulu Citra Salsabila, Bojonegoro
DI USIANYA yang menginjak 72 tahun, Rejo yang akrab disapa Mbah Jo masih semangat berkeliling desa dengan sepeda ontelnya untuk menjajakan es wawan.
Pria asal Desa Blongsong, Kecamatan Baureno ini berhasil merangkul ketiga anak laki-lakinya untuk menekuni profesi yang sama.
Sudah 26 tahun atau sejak 1998, Mbah Jo konsisten berjualan es wawan dengan berbagai pilihan rasa mulai dari durian, coklat, stroberi, mangga, melon, hingga susu.
Dari semua varian tersebut, rasa coklat menjadi favorit para pembeli. "Setiap hari saya mulai jualan dari jam 07.00 pagi, pulangnya tergantung es habis atau tidak, biasanya jam 15.00 atau 16.00 sore," ungkap Mbah Jo.
Keberhasilan Mbah Jo dalam menjalankan usahanya terbukti dari kemampuannya membawa 160-250 es wawan setiap hari yang selalu habis terjual.
Hanya saat hujan turun, terkadang masih ada sisa yang dibawa pulang. Keteladanan Mbah Jo berbuah manis.
Ketiga anak laki-lakinya kini mengikuti jejak sang ayah dengan berjualan es wawan di wilayah yang berbeda-beda.
Sukayat, anak pertama, berjualan di Desa Kepohbaru. Sementara Suwandi, anak kedua, melayani pembeli di Desa Kapal, Jombang, Betet, dan Jipo. Sedangkan Sanusi, anak ketiga, berkeliling di Desa Sumbergede dan Sugihwaras.
Adapun Mbah Jo sendiri fokus melayani pembeli di Desa Tlogorejo, Mojosari, Woro, dan Sumberagung.
"Alhamdulillah, anak-anak mau mengikuti pekerjaan ini. Mereka juga pakai sepeda ontel dan terompet bel seperti saya," kata Mbah Jo dengan bangga.
Ciri khas sepeda ontel dan terompet bel memang menjadi pembeda keluarga Mbah Jo dengan pedagang asongan lainnya.
Suara terompet yang khas selalu mengundang anak-anak dan warga untuk membeli es wawan mereka.
Saat ini, Mbah Jo menjual es wawannya seharga Rp 2.000 per buah. Harga ini terbilang naik signifikan dibanding awal ia berjualan pada 1998 yang hanya Rp 500 per buah.
Siti Nuhayati, 32, anak kelima Mbah Jo yang tinggal serumah dengannya menuturkan, sang ayah memiliki strategi khusus dalam berjualan.
"Di pagi hari beliau ke sekolah-sekolah, setelah jam istirahat selesai baru berkeliling desa," jelasnya.
Pembeli es wawan Mbah Jo tidak hanya dari kalangan anak-anak, tetapi juga orang tua dan pekerja.
Bahkan, Mbah Jo mengaku lebih senang berjualan di hari libur karena anak-anak berada di rumah dan uang saku mereka tidak terbatas.
Al Ghani Zalka atau Dek Al, asal Desa Tlogorejo, merupakan salah satu pelanggan setia. "Esnya sangat enak karena ada berbagai pilihan rasa. Hampir setiap hari saya beli karena Mbah Jo lewat depan rumah," ungkapnya.
Hal senada disampaikan Nurul Kholipah, 32, ibu rumah tangga dari desa yang sama. Ia kerap membeli es wawan Mbah Jo karena pedagang keliling ini selalu lewat saat cuaca sedang terik. "Esnya murah dan enak," tuturnya.
Kisah Mbah Jo dan ketiga anaknya menjadi contoh bagaimana sebuah profesi sederhana bisa menjadi sumber nafkah yang berkelanjutan.
Di tengah perkembangan zaman, mereka tetap mempertahankan cara tradisional berjualan dengan sepeda ontel sembari tetap menjaga kualitas dan pelayanan kepada pelanggan.
Semangat Mbah Jo di usia senja juga menjadi inspirasi bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan mencari nafkah halal bagi keluarga. (*/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko