Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menilik Pembuatan Kerupuk Bandung di Desa Tambakromo, Kecamatan Malo: Dibuat secara Tradisional, Laris Saat Musim Tanam atau Panen

Yana Dwi Kurniya Wati • Senin, 22 September 2025 | 16:30 WIB
TRADISIONAL: Proses pembuatan kerupuk bandung di Desa Tambakromo, Kecamatan Malo masih tradisional.
TRADISIONAL: Proses pembuatan kerupuk bandung di Desa Tambakromo, Kecamatan Malo masih tradisional.

 

Kerupuk menjadi salah satu makanan pendamping paling banyak dicari saat di meja makan. Terutama saat hajatan. Ini menjadi pertimbangan Kori'ah membuka dan mempertahankan usaha hingga kini.


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


CUACA Bojonegoro cukup terik saat itu. Terlihat sepasang suami istri mulai mencampur adonan untuk berjualan. Tak mengutamakan keindahan, mereka dengan giat menguleni dan mencetak makanan pendamping sumber penghasilan.

Proses produksinya pun tak selalu tiap hari. Namun, makanan ini cukup banyak dicari. Ya, kerupuk. Bisa dibilang kudapan pendamping ini cukup melegenda dan ada di mana-mana. Kerap ditemui di warung-warung kelontong, makan, hingga hajatan.

Salah satu pengusaha kerupuk ini berasal dari Desa Tambakromo, Kecamatan Malo. Dijalankan Kori'ah dan suaminya. Saat dijumpai langsung di rumahnya sekaligus tempat produksi, ia mulai bercerita. Dari awal mula membuka usaha hingga keresahannya.

Dia mengatakan, kerupuk buatannya lebih dikenal dengan sebutan kerupuk bandung. Cukup mirip dengan kerupuk yang dijual di warung-warung. Namun, ada perbedaan dari segi rasa dan bahan. Menurutnya, lebih terasa ikannya karena menggunakan campuran ikan dan resep keluarga.

’’Ini awalnya suami yang mulai. Sejak awal 1990-an. Pernah ikut pakde ke Banyuwangi yang juga bisa membuat itu. Akhirnya, belajar dan menerapkan di sini,” ucap perempuan paro baya itu.

Tak pelit ilmu, dia menjelaskan cara membuat dan beberapa bahan dibutuhkan. Mulai dari proses membuat adonan dari jenis tepung tertentu, mencetak menggunakan cetakan khusus, dikeringkan, hingga digoreng.

’’Ada ciri khasnya. Resep mungkin cukup beda, kami memakai ikan tengirian atau kadang yang biasa dibuat pindang,” katanya. Dia menambahkan, dalam proses produksi masih menggunakan cara tradisional.

Memasak dengan tumpukan batu bata dan kayu bakar. Menurutnya, untuk menjaga rasa agar tetap otentik dan khas. Namun, lanjut dia, tidak melakukan proses produksi setiap hari. Sebab, sekali membuat bisa mencukupi stok untuk distributor atau konsumen beberapa hari.

’’Per bungkus isi enam biji. Dari kami jual Rp 1.500 per piecesnya, nanti bisa dijual Rp 2.000,” tutur dia. Ia mengungkapkan, biasa menitip di warung-warung. Namun, sayangnya usaha tidak selalu ramai. Dia mengaku, sering kali penjualan lesu.

Terutama saat banyak hajatan di desa, karena umumnya kerupuk dibuat sebagai pendamping makan. Ia mengaku, dalam proses mempertahankan usahanya hingga mencapai konsumen membutuhkan usaha cukup keras.

Tak selalu berjalan mulus dan sesuai harapan, sering menemui tantangan. Dia berharap, ini juga menjadi atensi pemerintah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

’’Paling ramai biasanya saat ada musim tanam atau panen karena di sini mayoritas petani, saat itu banyak yang cari buat ke sawah. Sebenarnya, ada tiga wana untuk kerupuk kami, ada putih dan kuning,” ucap perempuan dua anak itu. (yna/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#berjualan #resep #malo #warung #kerupuk #umkm #bandung #ikan #kudapan #banyuwangi #bojonegoro #hajatan #Makanan #Penghasilan #suami istri