Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menilik Aktivitas Komunitas Alamsantri di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander: Ciptakan Ruang Kolaborasi untuk Mencegah Penurunan Jumlah Petani

Yana Dwi Kurniya Wati • Senin, 1 September 2025 | 18:51 WIB
EDUKASI: Komunitas Alamsantri membuat ruang komunikasi, kolaborasi, dan edukasi di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander.
EDUKASI: Komunitas Alamsantri membuat ruang komunikasi, kolaborasi, dan edukasi di Desa Ngraseh, Kecamatan Dander.

 

Tadzkhirotul A'la, pemuda yang memilih jalur kemasyarakatan memelopori ruang sosial berkumpul para petani di desa. Wadah kolaborasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


DI bawah gubug kayu sederhana muncul canda tawa. Berlokasi di lahan kebun jati itulah para petani melepas penat saat usai bekerja. Bermula sebagai tempat istirahat sepulang dari sawah muncullah ide dan gagasan produktif.

Membawa dampak positif bagi lingkungan dan tumbuhlah semangat gotong royong. Wadah ini dijuluki ruang kolaborasi Alamsantri. Berasal dari dua kata alam yang berarti ruang hidup dan menghidupi serta santri yang bermakna orang belajar atau berbagi ilmu.

Tadzkhirotul A'la salah satu pelopor Alamsantri sekaligus keluarga pemilik lahan mengatakan, Alamsantri merupakan ruang berkumpul untuk hidup dan saling menghidupi.

’’Komunitas ini dipelopori bersama masyarakat lingkungan. Mewadahi kegiatan positif masyarakat. Pendekatannya melalui jagongan dan warung kopi. Ada banyak kegiatan yang kami lakukan,” ucap A'la, sapaan akrabnya.

Kegiatan itu, lanjut dia, meliputi eksperimen lahan pertanian dan peternakan bersama masyarakat lingkungan dan edukasi atau layanan outbound untuk bermain anak-anak dengan alam sebagai pemantik agar ke depan menjadikan petani sebagai profesi yang menarik.

Serta, meningkatkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) produk teh paper mint dari lahan eksperimen pertanian dan mengembangkan tanaman buah dalam pot bersama masyarakat.

’’Tujuan kami adalah sebagai wadah sosial atau ruang kolaborasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat yang berdampak. Baik dari segi pertanian, peternakan, hingga edukasi,” imbuhnya.

Tentu, kata dia, yang bisa menjadi nilai ekonomi atau bisnis. Pria 28 tahun itu menambahkan, adanya Alamsantri tak lepas dari sejumlah kekhawatiran. Di antaranya minat menjadi petani menurun, anak yang cenderung bermain gawai, hingga judi online yang masih menjarah di desa-desa.

Sehingga, ia bersama masyarakat lainnya memutuskan membangun ruang komunikasi untuk menghidupkan gotong royong. Menggelar kegiatan seru bagi anak dan pemuda melalui alam dan olahraga serta menciptakan kolaborasi sesuai minat masyarakat sekitar.

’’Juga, menyediakan aktivitas alam dan permainan tradisional untuk mengurangi ketergantungan gadget. Saat ini, komunitas kami ada sekitar 50 orang dari usia 25-50 tahun,” ungkapnya.

A'la berharap, ruang kolaborasi bersama para petani itu dapat meningkatkan literasi pertanian, peternakan, dan kewirausahaan. Juga, bertambahnya peluang ekonomi atau pekerjaan dan membuat lingkungan sosial lebih sehat karena ada ruang bermain anak dan kegiatan pemuda.

’’Motif kami, ingin Alamsantri bisa menumbuhkan minat generasi mendatang untuk menjadikan petani sebagai profesi yang membanggakan, di mana pun mereka berada,” tutur dia. (yna/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#gubug #Alam #Outbound #lingkungan #Petani #pekerjaan #pemuda #berbagi ilmu #Pertanian #umkm #Istirahat #Santri #Ekonomi #buah #Gotong Royong #eksperimen #warung kopi