Daun bukan sembarang daun, daun bagi M. Kholiq merupakan karya seni. Melalui tangan mahirnya daun disulap menjadi suatu karya bernilai ekonomi dan budaya. Yakni. batik eco print.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
KREASI tangan mahir M. Kholiq pria asal Desa Ketileng, Kecamatan Malo telah dirasakan masyarakat berbagai kota. Jari-jemarinya bak maestro andal dari desa yang ingin mendulang dunia. Terjun di dunia batik sejak 2019, pria kerap disapa Kholiq itu kini menekuni tiga teknik sekaligus.
Pada satu kesempatan, Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan mewawancarainya saat Bojonegoro Wastra Batik Festival 2025 digelar. Kata perkata hingga frasa antusias ia lontarkan. Tak sedikit ia juga bercerita keresahannya sebagai warga, petani, hingga perajin batik.
Kholiq mulai mengungkapkan perjalannya menekuni dunia batik. Bermula setelah mengikuti bimbingan teknis (bimtek) pada 2019 sebelum pandemi Covid-19 yang digelar salah satu calon anggota legislatif (caleg) DPR RI saat itu di Adelia Resto.
Hingga akhirnya, ia memutuskan mencoba batik dengan teknik eco print. Menciptakan motif pada kain menggunakan bahan alami seperti daun, bunga, atau batang tumbuhan.
’’Karena produk ini ramah lingkungan. Bahkan, limbahnya bisa dijadikan pupuk tanaman,” ucapnya.
Kholiq mengaku, suka teknik eco print karena bisa mengenali berbagai jenis tanaman herbal dan mengaplikasikannya sebagai motif di atas kain. Selain itu, rasa senang dan bangga muncul saat batik besutannya dipakai sehari-hari atau fashion show.
’’Bila anda membeli dan memakai produk kami berarti turut serta menjaga bumi dari kerusakan alam,” tuturnya mengajak masyarakat lestarikan dan memakai batik.
Baca Juga: Ahmad Sugianto, Peraih Dua Emas Porprov Jatim 2025: Pantang Makanan Pedas dan Berminyak
Dia pun mulai bercerita keresahannya. Menurutnya, di Kecamatan Malo sempat terjadi banjir akibat hutan gundul.
Dia pun mulai termenung dan memikirkan solusi. Terlebih, banyak warga menggunakan pupuk kimia. Padahal, lanjut dia, tanah perlu oksigen untuk pergerakan akar berbagai tanaman.
’’Jadi, sebenarnya dengan teknik bertani yang mengurangi kimia atau dengan mencangkul akan membantu akar semua jenis tanaman mendapatkan oksigen dengan baik. Sehingga, tanaman tumbuh subur. Dan, ini kita harus bergandengan tangan,” ajaknya.
Dia melanjutkan, dengan menjaga alam hutan akan lestari dan bermanfaat bagi masyarakat. Baik dari segi lingkungan hingga ekonomi. Layaknya pemanfaatan tumbuhan dalam proses batik eco print.
Kholiq menambahkan, biasa menggunakan berbagai macam dedaunan untuk motif batiknya. Mulai daun lanang, jarak kepyar merah, jati, jaranan, klengkeng, melati belanda, daun kenikir beserta bunganya, cemara angin, hingga daun pisang.
Dari sini pesanan berdatangan. Seperti Malang dan Surabaya. ’’Kami juga menitipkan produk di toko besar di Bojonegoro sebagai oleh-oleh. Seperti New Galeri, Swarna Kriya, dan Galeri Dekranasda,” imbuhnya.
Selain eco print, tambah dia, juga menekuni batik tulis warna alami dan shibori. Motif beragam dari merak, bunga, sampai daun jati. ’’Saya juga seorang petani. Suka tanam menanam,” ucap pendiri Batik Asari Kecamatan Malo itu. (yna/bgs)