Pertunjukan seni wayang masih eksis. Talenta muda seperti Trio Wahyu Aji salah satu pelestarinya. Berawal dari suka keramaian hingga jadi dalang wayang thengul sejak kelas IV sekolah dasar (SD).
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
BERTALENTA dan berbakat, gambaran Trio Wahyu Aji salah satu pemuda Desa Kedungrejo, Kecamatan Kedungadem. Jiwa seni mengalir deras di darahnya. Tumbuh besar di keluarga seniman membuatnya tertarik menekuni apa itu kesenian wayang.
Pemuda 25 tahun itu cukup berani mengambil langkah dalam hidupnya. Memutuskan menjadi dalang sejak masih usia anak-anak. Menjaga tradisi, budaya, dan seni nenek moyang menjadi salah satu tujuan pria kerap disapa Trio itu.
Namanya tidak hanya dikenal di Bojonegoro, namun juga kabupaten sebelah. Bahkan, menjadi langganan rutin tiap tahun. Dalam satu kesempatan, dia bercerita awal mula menjadi seorang dalang.
’’Saya menekuni dunia pewayangan sejak kecil, saat kelas IV SD. Saya sudah pentas seni pertunjukan wayang yang dipimpin bapak saya sendiri, Ki Sudarno,” ucapnya. Berawal dari suka keramaian, ia mengaku, kerap kali mengikuti sang ayahanda mendalang kemana-mana.
Dari desa ke desa hingga luar kota. Meski, kata dia, awalnya bukan karena tertarik wayang, tapi karena sangat menyukai keramaian. Situasi ramai baginya kesenangan tersendiri. Hingga akhirnya diajarkan seni pewayangan oleh sang bapak.
Mulai bagaimana pentas sampai cara menggerakkan wayang. ’’Mengapa memutuskan jadi dalang karena kecintaan dan rasa ingin tahu saya tentang wayang sejak kecil,” ungkapnya. Sehingga, kata dia, melanjutkan pendidikan jurusan seni pedalangan di SMK 12 Surabaya dan ISI Surakarta.
Seni baginya sangat menyenangkan meski dalam pentas sering kali menemui duka dan tantangan. Misal permintaan mendadak cerita dibawakan dalam pewayangan, hujan, hingga kurang kompaknya iringan karawitan.
’’Seni itu asyik. Ketika ada job atau pentas jadi kumpul teman, bercanda tawa. Jadi, di panggung itu ada keasyikan tersendiri. Di sisi lain juga menerima bayaran. Menikmati hobi tapi dibayar itu menurut saya lebih asyik. Tidak ada tekanan atau sebagainya,” beber dia.
Trio mengungkapkan, sudah menerima tawaran mendalang sejak SD itu. Tanggapan atau pementasannya semakin meluas. Dari Kecamatan Dander, Kota, Ngraho, Temayang, hingga Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan. Acaranya pun beragama mulai nikahan, khitan, hingga haul atau peringatan kematian.
’’Sering sekali itu di Kecamatan Kedungpring, Lamongan. Dari kecil sampai sekarang. Ada sepuluh tahun lebih saya pentas di sana. Agustus besok ini ke sana,” katanya. Kini Trio tengah menekuni tiga seni pewayangan sekaligus.
Meliputi thengul, kulit, dan krucil. Untuk wayang kulit ia tekuni saat duduk di bangki SMK dan ISI Surakarta. ’’Wayang krucil ini dengan berjalannya waktu jadi lebih mudah,” tuturnya. Dia berpesan, pada kaum muda harus turut melestarikan budaya terutama zaman sekarang di mana perkembangan digital atau modern dan globalisasi sangat pesat.
Sebab, tugas kita hanya melestarikan dan menikmati. Bukan lagi menciptakan karena sudah dari nenek moyang. Dia menegaskan, ini tanggung jawab kita semua. Jangan sampai seni budaya hanya menjadi cerita rakyat dan koleksi museum belaka.
Harus bangga punya warisan budaya. ’’Saya juga mendirikan Sanggar Kahuripan yang artinya hidup. Fokusnya ke wayang thengul tapi juga mengajari seni karawitan. Dan daya juga buat seni pertunjukan campur sari, oklik, elektun atau musik melayu, dan karawitan,” pungkas dia. (*/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko