RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Menjadi aktor perubahan Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi mimpi Dr. Hj. Sri Budi Cantika Yuli. Melalui dedikasinya terhadap pendidikan di Indonesia.
Perempuan akrab disapa Bunda Cantika tersebut ikhlas mengabdikan diri untuk Ibu Pertiwi. Sesuai Namanya yang memiliki arti Dewi Sri, semakin berisi, semakin membumi.
‘’Pendidikan adalah kunci perubahan, dan saya ingin menjadi bagian dari perubahan itu,’’ tutur Istri Bupati Bojonegoro Setyo Wahono tersebut.
Bunda Cantika lahir dari keluarga yang mengedepankan pendidikan menjadi berkah tersendiri bagi perempuan yang menghabiskan masa kecil di Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota tersebut.
Orang tuanya selalu mendukung arah geraknya di dunia pendidikan. Menjadi motivasi untuk terus melangkah mencapai jenjang pendidikan setinggi-tingginya.
Ibu dari masyarakat Bojonegoro tersebut lahir dan besar di kota Ledre ini. Menyelesaikan pendidikan SD, SMP, dan SMA di Bojonegoro. Kemudian, melanjutkan pendidikan S-1 di kota Malang.
Dengan gelar Dr dari jenjang studi S-3 yang telah ditempuhnya. Cantika Wahono semakin menunjukan kiprahnya, baik di dunia pendidikan maupun pengabdian masyarakat lain.
Baca Juga: Gerakkan Ekonomi Lokal, Cantika Wahono Ajak Masyarakat Hadiri Gebyar Ramadhan Bojonegoro
‘’Cita-cita saya sebenarnya sebagai wartawan karena kalau jadi wartawan bisa keliling dunia. Tapi, ternyata kehidupan membawa saya menjadi seorang pendidik, sesuai cita-cita orang tua saya,’’ kenangnya sambil tersenyum.
Pahit manis perjuangan dilalui Cantika selama mendalami dunia pendidikan. Bahkan, sejak kuliah, sudah terbiasa berjualan untuk mencari tambahan uang saku sendiri.
Seperti, sejak akhir masa kuliah S-1 hingga S-2. Ia berjualan hijab dengan kulakan di Pasar Besar Malang, kemudian di jual di Bojonegoro.
‘’Namanya perjuangan tidak pernah lepas dari kurang uang saku, itu biasa, tapi sejak kuliah, saya memang suka jualan,’’ ceritanya.
Di dunia akademik, Cantika memulai karir sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Malang sejak 1999. Perjalanan hidupnya dimulai dari ruang yang ia cintai, yakni dunia pendidikan.
Selama lebih dari dua dekade menjadi dosen. Menyaksikan betapa besar pengaruh pendidikan dalam membentuk peradaban. Ia percaya, bahwa peran dosen bukan hanya menyampaikan materi di kelas. Tapi, membentuk karakter, membuka wawasan, hingga menumbuhkan semangat kritis pada mahasiswa.
Kini, ia menjadi dosen senior dengan pangkat Associate Professor. Di samping mengajar, Bunda Cantika juga tidak pernah berhenti untuk belajar.
Bahkan, kini ia dalam proses meraih gelar akademik tertinggi, yakni sebagai profesor atau guru besar.
‘’Ini bukan tentang gelar semata, melainkan tentang komitmen untuk terus berkontribusi dalam dunia keilmuan dan masyarakat,’’ tandasnya optimistis.
Bagi Cantika, menjadi perempuan adalah tentang menjalani berbagai peran dengan hati yang utuh. Sebagai seorang perempuan yang menjalani berbagai peran dalam hidup, sebagai istri, ibu, akademisi, dan istri dari Bupati Bojonegoro.
Ia selalu percaya, bahwa kekuatan perempuan itu hadir dalam keseimbangan. Yakni, antara kelembutan dan ketegasan, memberi dan menginspirasi, mendampingi serta tetap mandiri dalam berkarya.
Dalam jabatannya sebagai Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Bojonegoro saat ini, Bunda Cantika merasa bahwa amanah yang diembannya membuka ruang pengabdian lebih luas.
Tidak hanya sekadar menemani Sang Suami dalam tugas seremonial. Namun, juga hadir di tengah-tengah masyarakat, terutama perempuan, anak, dan bidang pendidikan.
‘’Saya percaya bahwa perempuan bisa berdaya tanpa harus kehilangan kelembutannya. Bisa berkarya tanpa melupakan perannya di rumah. Itulah cita-cita yang terus saya perjuangkan, menjadi pribadi yang bermanfaat di manapun berada,’’ ungkapnya.
Bagi ibu dari dua orang anak tersebut, Hari Kartini bukan sekadar peringatan simbolik. Namun merupakan momen refleksi, tentang bagaimana perempuan Indonesia terus melangkah maju, tanpa melupakan akar budayanya.
Kartini mengajarkan untuk tidak takut bermimpi, berani berfikir, dan bertindak di tengah keterbatasan. Dalam konteks saat ini, menjadi perempuan bukan soal memilih antara keluarga dan karir. Karena perempuan bisa menjadi keduanya, selama memiliki komitmen, cinta, dan tujuan yang jelas.
Dia bersyukur atas setiap peran yang dijalani hingga saat ini. Perjalanan yang tidak selalu mudah, namun terus terjalani dengan cinta dan rasa syukur.
‘’Pada akhirnya, inspirasi bukan hanya tentang pencapaian, tapi tentang bagaimana kita bisa tetap konsisten menjadi cahaya bagi lingkungan sekitar,’’ pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana