Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kiai Ma’shum Fathoni, Penulis Kitab Terjemahan Bahasa Jawa: Sebelum Menulis, Kitab Dikhatamkan hingga Enam Kali

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 13 April 2025 | 21:15 WIB
PRODUKTIF: Kiai Ma’shum Fathoni menunjukkan salah satu kitabnya. Karyanya akan abadi tak lekang oleh zaman. (LUKMAN HAKIM/RADAR BOJONEGORO)
PRODUKTIF: Kiai Ma’shum Fathoni menunjukkan salah satu kitabnya. Karyanya akan abadi tak lekang oleh zaman. (LUKMAN HAKIM/RADAR BOJONEGORO)

 

Ulama dan kiai sangat dekat dengan literasi, bahkan karya para ulama yang ditulis ratusan tahun lalu, saat ini masih relevan dikaji para santri. Untuk memudahkan pemahaman santri, Kiai Ma’shum Fathoni terjemahkan kitab klasik dalam bahasa jawa.


Lukman Hakim, Bojonegoro


HALAMAN Pondok Pesantren Mansya’ul Huda cukup teduh, pohon sawo di teras rumah Kiai Ma'shum itu cukup rindang, dua santri abdi ndalem kiai menyambut para tamu sebelum memasuki rumah kiai sepuh di Dukuh Kedungglonggong, Kecamatan Bogorejo tersebut.

Sekitar 10 menit, Mbah Ma’shum datang dengan langkah hati-hatinya sambil memegang tongkat, dan dibantu santrinya duduk di ruang tamu.

Beberapa kitab terjemahannya itu ia suguhkan, lengkap dengan sampul kitab yang telah dicetak apik. Mbah Ma’sum kemudian menceritakan, karya terjemahannya mudah dipelajari dan dipahami oleh para santri di daerah.

Sebab tidak hanya sekedar dialih bahasakan. Melainkan, disesuaikan dengan bahasa lokal Blora, dengan tetap menggunakan tulisan arab pegon.

“Saya itu berpikir, bagaimana kitab dengan bahasa arab bisa dipahami, kemudian saya terjemah sesuai bahasa jawa Blora,” ungkap pengasuh ponpes Mansya’ul Huda itu.

Beberapa kitab klasik yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa Blora seperti Matholiul jauhariyah fi terjemah Qhowaidul fighiyah (kaidah kaidah fiqih); 'Aunul Bais (ilmu tentang hadis), Sulam munawaroq (metodologi berpikir) ilmu logika; Kemudian Halul isyarah (tentang aqidah aqidah islam); dan kitab alfiyah (tentang tata cara membaca kitab).

Sebelum melakukan proses penerjemahan, Mbah Ma’shum harus membaca dan mengkhatamkan kitab yang akan diterjemahkan selama enam kali.

“Sebelum saya terjemahkan, saya baca di pondok sampai enam kali,” ungkapnya.

Pria kelahiran 1950 an tersebut mengungkapkan, selain menggunakan bahasa lokal Blora, juga menambahkan Syarah (keterangan) di dalam karya terjemahannya.

Tujuaannya mendalami pembahasan isi kitab tanpa keluar dari konteks yang dimaksud pengarang kitab asli.

Kecintaannya terhadap ilmu agama dan penyebarluasan ajaran islam menuntun Kiai Ma’shum terus menulis. Usia yang semakin menua dan padatnya waktu mengajar ngaji di pondok bukan penghambat.

Ia menulis di sela-sela waktu tersebut, bahkan hingga larut malam.

Menariknya, di usia yang sudah menginjak 75 tahun, Rois Syuriah PCNU Blora tersebut juga melek teknologi. Tak hanya menulis menggunakan kertas, juga menggunakan tablet dalam proses menulis terjemahan kitab-kitab, menyimpan file sebelum dicetak ke penerbit.

Informasi dari para santrinya, Kiai Ma’shum biasanya sering meminta untuk membelikan tablet untuk menulis terjemahan kitab.

“Beliau menulis menggunakan tablet, beberapa kali saya diminta membelikan,” ujar Ilham Adnan, salah satu abdi dalem.

Adnan mengungkapkan, selain menerjemahkan kitab-kitab yang telah dikajinya selama belajar di berbagai tempat, Kiai Ma’sum juga menulis beberapa kitab sendiri. Seperti kitab himpunan doa-doa yang khusus.

Diketahui, kecintaan Mbah Ma’shum terhadap ilmu agama hingga usia tua tersebut karena banyak pondok pesantren digunakan untuk menimba ilmu, seperti di Sarang, Rembang.

Tak hanya di tanah air, Kia Ma’shum juga belajar hingga ke Makkah, Arab Saudi. Berguru dengan Syaikh Abdullah bin Said Al-Lahji, Syaikh Yasin Al Fadani Al Makiy, Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, dan Syaikh Ismail bin Utsman Al Tamani. (luk/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#arab pegon #kiai #Bogorejo #pondok #rembang #ulama #Santri #kitab #kitab klasik #literasi #blora #bahasa jawa