Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Ki Ngesti Adi Anggoro, Dalang Gen Z Asal Kecamatan Purwosari Bojonegoro: Bukan Keturunan Dalang, Optimistis Seni Budaya Jawa Tetap Eksis

Hakam Alghivari • Senin, 17 Maret 2025 | 22:45 WIB

 

SENIMAN: Dalang muda sekaligus seniman asal Kecamatan Purwosari Ki Ngesti Adi Anggoro begitu luwes dan piawai memainkan setiap lakon pewayangan.
SENIMAN: Dalang muda sekaligus seniman asal Kecamatan Purwosari Ki Ngesti Adi Anggoro begitu luwes dan piawai memainkan setiap lakon pewayangan.

Tertarik dunia seni sejak kecil membuat Ki Ngesti Adi Anggoro menekuni berbagai kesenian. Terutama wayang dan kini menjadi dalang dari kalangan generasi Z (Gen Z). Menerima tawaran hingga luar kota.


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro


WAYANG gunungan menancap lurus di tengah kelir (layar). Pertanda pertunjukkan wayang dimulai. Diiringi gending atau musik pembuka. Dilanjutkan keprakan mlatuk satu kali, neteg satu kali, dan kembali ke geter sampai tempo dikehendaki.

Dinginnya angin malam tak membuat gentar para pecinta lakon pewayangan. Pertunjukan digelar tengah malam membuat daya pikat tersendiri. Berselimut gemuruh angin dan riuhnya gending tak lantas membuat mata terpejam.

Khas para bapak-bapak yang biasa memakai sarung di pundak untuk menyaksikan pagelaran. Turut juga kakek, nenek, dan ibu-ibu. Memang jarang menemui kaum muda-mudi. Sebab, kesenian satu ini lekat disandang budaya yang disukai kaum tua.

Meski itu tidak benar. Layaknya cerita Ki Ngesti Adu Anggoro, dalang Gen Z dari Desa Punggur, Kecamatan Purwosari. Pria 24 tahun kerap disapa Ngesti ini yakin dan membuktikan bahwa seni budaya khususnya wayang tidak akan punah.

Malah tetap diminati khalayak umum dan tetap eksis. ’’Saya sendiri tertarik dunia seni sejak kecil. Meski bukan berasal dari keturunan dalang tapi si mbah saya seorang seniman pengrawit. Bapak ibu saya tidak orang seni. Saya dalang pertama keluarga,” tuturnya.

Dia mengaku, menyukai dunia seni dan ingin menjadi seniman merupakan cita-cita sejak kecil. Bahkan, tidak hanya fokus mendalang ia juga menyukai dan menekuni seni ketoprak atau seni peran drama Jawa.

Dengan penuh tekad, Dalang Ki Ngesti ini memiliki tujuan ingin melestarikan seni. Usaha pun dilakukan tak hanya sebatas ucapan. Kini ia mendirikan sanggar seni bernama Sekar Jati. Dari situ, dia berkomitmen mencetak generasi muda cinta terhadap budaya Jawa.Terutama karawitan.

Menurutnya, jangan sampai kalah dengan budaya modern yang berkembang saat ini. Perjalanannya itu pun tak semulus Jalan Tol Ngawi-Kertosono. Dia mengaku, saat kali pertama merintis sebagai dalang, banyak menerima respons negatif.

Seperti pikiran seni zaman sekarang dihadapkan kepunahan. Tidak ada harapan untuk progres ke depan. Tapi, penuh semangat, keraguan itu berhasil dipatahkan. Ki Ngesti berhasil membuktikan, bahwa kesenian atau budaya tetap eksis dan diminati khalayak umum.

Contohnya sampai sekarang seni karawitan masih tetap berjalan. Sanggarnya masih rutin latihan. ’’Dan sekarang banyak sekali respons positif dari keluarga utamanya dan masyarakat sekitar,” ucapnya.

Dia menambahkan, pentas atau tanggapan dalang cukup di lokal daerah Bojonegoro. Tapi, tak jarang ia juga diundang ke luar kabupaten. Seperti Blora, Magetan, hingga Pacitan. ’’Untuk pentas saya cukup lokal di daerah Bojonegoro. Tapi, juga pernah di luar kabupaten,” tuturnya. (*/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#dalang muda #wayang #bojonegoro #purwosari #Gen Z #dalang