Jalanan ekstrem sepanjang Alas Watu Jago, Kecamatan Margomulyo membuat banyak pengendara kerap menjalami kecelakaan. Hal itulah, yang membuat sopir-sopir yang tergabung di PSM Watu Jago tergerak, hingga menjadi relawan.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
PERJALANAN melewati jalan di perbatasan Bojonegoro-Ngawi, menjadi tantangan tersendiri bagi pengemudi. Jalan menikung, turunan, tanjakan, dan jurang di sisi jalan menjadi pemandangan di kawasan itu.
Hal itu membuat kecelakaan lalu lintas (laka lantas) hingga kendaraan mogok di tengah hutan menjadi pemandangan yang kerap terlihat oleh warga di wilayah Kecamatan Margomulyo. Tak sedikit mobil mengalami rem blong, kampas kopling gosong, dan kendaraan berjalan mundur karena tak kuat menanjak.
Hal itu, awalnya disadari oleh para sopir di kawasan Margomulyo yang tergabung dalam Paguyuban Sopir Margomulyo (PSM) Watu Jago. Rekan sesama profesi tersebut, kerap ngopi bersama di sebuah warung di area Watu Jago.
Seringnya standby di kawasan itu, membuat sopir-sopir tersebut kerap dimintai pertolongan saat ada kendaraan yang mogok di tengah jalan. Hal itu, diungkapkan Andik Gunanto selaku Ketua PSM Watu Jago. Ia menyampaikan, bahwa awalnya komunitas ini dibentuk untuk menolong sesama driver yang kerap mengalami trouble.
Namun, seiring berjalanannya waktu. Ternyata banyak masyarakat umum yang juga membutuhkan pertolongan. ’’Awalnya dibentuk untuk menolong sesama driver yang mengalami trouble di Watu Jago, beranggotakan sopir satu Kecamatan Margomulyo,” ungkap Andik.
Menurutnya, area tanjakan sepanjang jalan, dengan area menikung membuat banyak pengendara mengalami masalah pada kendaraan. Hal itu, membuat sopir-sopir yang nongkrong kerap dimintai pertolongan.
Namun, yang lebih eloknya, mereka melakukan hal tersebut secara gratis atau tidak perlu membayar. Atas nama sesama profesi sopir dan kemanusiaan, mereka melakukannya secara sukarela. Hingga, semakin hari aktivitas sopir-sopir tersebut kian sibuk dengan permintaan pertolongan.
Pria yang juga sopir truk itu menambahkan, semakin ramainya jalan pascaperbaikan dan pelebaran, membuat potensi kendaraan trouble semakin bertambah. Hal tersebut, membuat banyak pengendara kerap mengalami kecelakaan di jalan tersebut.
Akhirnya, komunitas yang dibentuk sudah lebih dari lima tahun itu memutuskan untuk menjadi relawan tak hanya sesama sopir. Namun, juga masyarakat secara luas. ’’Setiap pengguna jalan yang melintas di Watu Jago, atau mengalami kendala,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro. (*/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana