RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Maskun, seorang perajin kayu jati dari Desa Batokan, Kecamatan Kasiman telah berkecimpung dalam industri kerajinan kayu sejak 1998. Berawal dari seorang perajin, ia akhirnya memberanikan diri membuka toko pada 2003.
Bahkan, kerajinan kayu jati Maskun bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi bagi para perajin lokal. Dengan keberadaannya, ia turut mendukung para perajin di sekitar Desa Batokan untuk tetap produktif dan memiliki pasar yang lebih luas.
Tak heran, keputusannya buka toko ini membuahkan hasil. Dan, usaha tersebut terus berkembang hingga kini dan menjadi salah satu tempat produksi serta penjualan kerajinan kayu jati yang dikenal luas di wilayahnya.
Awalnya saya hanya perajin biasa, tetapi seiring berjalannya waktu, usaha ini berkembang. Saya mulai menjadi penampung bagi produk dari perajin lain juga,” ujar Maskun. Dengan perannya ini, ia membeli produk mentahan dari para perajin untuk kemudian diolah lebih lanjut.
Produk-produk tersebut mengalami tahap finishing di tangan Maskun sebelum siap dipasarkan. Beragam produk ditawarkan Maskun, mulai dari asbak rokok, tempat air minum gelas, kotak tisu, hingga guci, vas bunga, dan jam dinReban
Produk yang paling murah dijual dengan harga Rp 15.000, yaitu asbak rokok. Sedangkan, kerajinan dengan harga tertinggi adalah guci besar yang dibanderol hingga Rp 2 juta. Saat ini, pemasaran produk kerajinan kayu jati Maskun telah merambah ke dunia digital.
Kami memasarkan lewat Shopee dan juga menjual langsung di toko. Kadang-kadang juga ikut pameran,” jelasnya. Partisipasi dalam pameran tak lepas dari dukungan dinas pemerintah, baik dari Dinas Perdagangan maupun Dinas Pariwisata. Pameran terakhir yang diikutinya diselenggarakan di Grand City, Surabaya.
Namun, perjalanan usahanya tak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku yang terbatas, terutama saat permintaan produk meningkat. Kadang kami mengalami kekurangan bahan baku, padahal ada banyak pesanan yang perlu dipenuhi. Selain itu, jumlah perajin yang tidak terlalu banyak membuat saya harus menunggu giliran untuk mengambil barang mentah,” ungkapnya.
Meskipun demikian, Maskun tetap optimistis dan berharap agar perekonomian semakin stabil. Sehingga, usahanya dapat terus berjalan lancar. Semoga perekonomian lebih bagus, jadi kami bisa berjualan dengan nyaman dan harga pasar kembali normal,” ujarnya. (fra/bgs)
Editor : Hakam Alghivari