RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Mentok atau yang biasa disebut entok merupakan hewan berjenis unggas yang masih berkerabat dekat dengan bebek. Entok ini biasanya dimanfaatkan telurnya. Tetapi kebanyakan memang dimanfaatkan bagian dagingnya.
Karena ada beberapa jenis entok yang memang memiliki daging yang sangat banyak dan besar. Hal ini pun digunakan sebagai ladang budidaya yang bisa menghasilkan cuan seperti yang dilakukan Irul.
Pria asal Desa Tapelan, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro pun memanfaatkan lahan kosong di sebelah rumahnya. Sehingga, Irul berhasil membangun budidaya entok tersebut. Dalam perjalanannya sendiri, berkat melihat potensi bisnis budidaya lewat jejaring YouTube dan dengan memanfatkan lahan kosong, Irul membuat sebuah kandang entok.
Berawal dari empat indukan, kemudian indukan tersebut bertelur dan menghasilkan banyak. Selain keberhasilannya dalam mengembangkan indukan tersebut menjadi beberapa anakan, Irul juga melihat potensi penjualan entok tergolong tinggi. Terutama pada entok jenisan dan berhasil membuat usaha budidaya entok dengan nama Benua Entok.
Namun, di tengah perjalanan, tepatnya pada 2021 lalu Irul mendapatkan sebuah musibah. Ada banyak entoknya yang meninggal karena terkena virus mata biru dan jempor. Hal itu membuat gagal panen dan sempat terkena kerugian.
Namun, beruntungnya dengan sisa Indukan yang masih ada, Irul berhasil kembali membangun usaha tersebut yang sekarang mulai berjalan lagi. ’’Jadi pas mau panen, hilang semua. Hanya disisain indukan empat. Jadi, nyoba lagi sebelum lebaran tahun ini itu saya ambil bibit dari Cepu. Jadi total sekitar 60-an bibit dari kecil, habis itu ya berjalan dan akhirnya sampai sekarang ini,” ungkapnya.
Memang dalam perawatannya sendiri, entok tidak terlalu sulit. Namun, memang butuh diperhatikan mengenai kandangnya, kandang entok yang perlu dibuatkan kolam untuknya berendam dan minum dan sesekali diganti.
Kebersihan kandang juga sangat berpengaruh terhadap entok itu sendiri. Kandang entok biasanya dibersihkan tiap pagi dan sore hari. Hama berupa serangan dari reptil juga sangat berpengaruh yang mana biasanya mengincar telurnya maupun entok itu sendiri.
Namun, di balik itu ada kesulitan lain saat merawat entok. Khususnya, pada bagian pakan. Sebab, entok memang tergolong hewan rakus. Sehingga, alasan banyak orang yang tidak sanggup merawat entok karena jumlah makanannya tergolong banyak.
Entok pada umur 0 sampai 30 atau 46 hari harus dikasih uwur dan minum racikan berupa campuran gula merah, kunyit, dan jahe. Setelah umur sudah lepas dari uwur dikasih berbagai makanan campuran seperti nasi bekas, tempe busuk, dan dedak yang dalam seminggu bisa menghabiskan sekitar 35-50 kilogram.
Sehingga, dalam sebulan bisa menghabiskan sekitar Rp 600 ribuan untuk kebutuhan pakannya. Irul mengaku memang kebutuhan makanan pada entok sangat banyak. Adapun upaya menghemat pengeluaran makanan, Irul seringkali memanfatkan berbagai macam tanaman seperti eceng gondok, kangkung, dan azola yang diselep, lalu dijadikan makanan.
Di dalam usahanya ini, Irul membudidayakan entok jenis jumbo dan rambon yang memang tergolong entok yang menghasilkan daging banyak. Irul biasanya menjual dengan harga sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per ekor untuk jenis rambon.
Sedangkan, harga entok jenis jumbo tegolong tinggi. Yakni, sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per ekor. Kalau yang bibit sudah makan uwur dijual Rp 15.000 per ekor. Dan, kalau umur sudah satu bulan bisanya dijual harga Rp 30.000 per ekor untuk jenis rambon. Sedangkan, jenis jumbo bibitan baru menetas biasa dijual dengan harga Rp 25.000 sampai Rp 50.000 per ekor.
Memang dalam penjualannya sendiri, Irul biasanya mempromosikan melaui komunitas yang ada di media sosial. Penghasilan yang didapatkan tidak bisa dihitung. Karena memang bersifat tidak menentu dan tergantung musim dan minat pembeli.
’’Ada bulan tertentu yang kami panen, biasanya pada musim lebaran, musim tahun baru nah itu baru dapat diitung penghasilannya. Tahun kemarin dalam sebulannya bisa mendapat sekitar Rp 1,5 juta. Itu saja cuma beberapa ekor, tidak semuanya. Karena memang kami kalau ngejual itu setengahnya, yang setengahnya lagi dibuat indukan,” tandasnya. (naw/bgs)
Editor : Hakam Alghivari