Berbagai sampah bekas disulap menjadi miniatur Candi Borobudur dan Prambanan yang menawan. Warga RT 05/RW 03 Dusun Cobaan, Desa Blongsong, Kecamatan Baureno juga menyajikan pertunjukan drama kolosal.
DEWI SAFITRI, Bojonegoro
MINIATUR Candi Borobudur dan Prambanan terlihat apik diarak warga RT 05/RW 03 Dusun Cobaan, Desa Blongsong, Kecamatan Baureno saat pawai karnaval pada 1 September lalu. Dengan dipikul empat warga yang berdandan layaknya warok di setiap sisi miniatur candi.
Diiringi dengan berbagai pertunjukan seni dan gumpalan asap warna-warni membuat pertunjukan drama bertemakan Budaya Nusantara tersebut terlihat menawan di sepanjang rute karnaval.
‘’Miniatur Candi Borobudur dipikul oleh 4 orang, menggambarkan gotong royong,” ujar Muhammad Muflihun peserta karnaval tersebut. Menariknya, miniatur candi tersebut dibuat dengan berbahan sampah bekas pakai warga sekitar. Warga RT 05/RW 03 Dusun Cobaan, Desa Blongsong berhasil mengolah sampah tak terpakai menjadi sebuah karya bernilai.
Warga setempat membentuk bagian kerucut miniatur candi dari gelas plastik, sedotan, hingga baskom hajatan. Kemudian, di bagian kubah berasal dari kurungan ayam dan kertas bekas semen dengan diameter sekitar 50 sentimeter. Sedangkan, untuk bagian pendukung memanfaatkan triplek.
Dengan bagian penyangga menggunakan bambu sekitar 3 meter. Selain itu, juga memanfaatkan berbagai bahan daur ulang lainnya sebagai pemanis miniatur candi. Seperti, kardus hingga galon bekas.
Perlu waktu sekitar tiga hari bagi warga setempat untuk mengumpulkan barang-barang bekas untuk didaur ulang. Kemudian, menghabiskan sekitar tujuh hari untuk gotong-royong membuat miniatur candi dari bahan daur ulang sampah tersebut.
Sikap kooperatif seluruh warga setempat, membuat pekerjaan terasa ringan karena dilakukan dengan kerjasama yang baik. ’’Mulai dari pengumpulan sampah bekas pakai warga sekitar hingga pembuatan, semua dilakukan oleh warga satu RT. Semua warga kooperatif,” katanya.
Sekitar 100 warga RT 05/RW 03 Dusun Cobaan, Desa Blongsong yang turut serta dalam karnaval mendapat bagian tugas dan peran masing-masing. Dengan mengangkat cerita budaya kisah Rorojonggrang dan Bandung Bondowosa.
Digambarkan melalui miniatur miniatur candi Borobudur dan Prambanan yang telah dibuat sedemikian rupa menyerupai aslinya. Termasuk detail setiap bentuk hingga pewarnaannya. Drama kolosal dimainkan dengan epic oleh para tim. Gerakan demi gerakan dilakukan sesuai arahan pengisi suara. Memerankan kisah Bandung Bondowoso yang minta untuk menikahinya.
Dengan penerimaan tantangan dan masuklah pasukan untuk membantu membangun candi-candi yang harus selesai sebelum fajar. Singkat cerita, tantangan gagal hingga berakhir pada Bandung Bondowoso yang marah dengan ditandai oleh nyalanya asap-asap yang mengitari candi dalam drama kolosal tersebut.
Selain pertunjukan drama kolosal, acara juga dimeriahkan dengan tarian tradisional dengan sekitar 13 maskot. Dandanan para selir yang anggun dan cantik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
’’Kami menjadi tim yang ditunggu-tunggu oleh sekian banyak masyarakat, bahkan dari berbagai wilayah. Selain melestarikan dan mengenalkan budaya, kami mewujudkan masyarakat yang kreatif. Dengan memanfaatkan barang yang tidak terpakai menjadi bernilai,” pungkasnya. (*/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana