Seni peran dan unsur komedi yang telah diracik Teater Sagiwon dan Stand-Up Indo Bojonegoro, menghadirkan pertunjukan inovatif berjudul Kelas Unggulan.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
SUASANA gedung IKIP PGRI Bojonegoro pada Sabtu (24/8) lalu tampak seperti kelas SMA pada malam hari. Saat memasuki salah satu kelas, terdapat gapura minimalis bertuliskan ‘SMA Sagiwo Berseri-seri 2’. Salah aktor yang berperan sebagai guru, tampak masuk kelas dengan mengendarai motor. Hal itu disambut puluhan siswa dengan gelak tawa.
Namun, siswa dalam kelas tersebut juga bukan siswa sungguhan, mereka adalah penonton yang sengaja registrasi untuk menyaksikan pertunjukan teater yang tidak biasa. Bahkan, penonton datang mengenakan seragam SMA, untuk menghadirkan pengalaman masa sekolah.
‘’Pertunjukan ini menggabungkan seni teater dan stand-up comedy dengan cara yang baru, khususnya di Bojonegoro. Sebuah pertunjukan interaktif yang mengubah cara kita memandang seni pertunjukan,” ungkap Dicky, Sutradara Teater Sagiwon.
Menurutnya, meski banyak yang beranggapan bahwa stand-up comedy atau teater, mesti di panggung dengan fasilitas yang memadahi.
Namun, Kekurangan fasilitas itu coba dibalik menjadi kelebihan sehingga muncul konsep pertunjukan di dalam kelas.
Meski berbagai tantangan harus dilalui, salah satunya mencegah penonton merasa bosan. ‘’Dulu, saat sekolah, yang paling membosankan adalah jam pelajaran. Jadi, saya berusaha membuat suasana kelas lebih hidup dengan menambahkan humor dan variasi emosi,” imbuh mahasiswa ISI Surakarta tersebut.
Terbukti, saat pertunjukkan dimulai, penonton seakan diingatkan kembali oleh pengalaman masa SMA. Seperti kekacauan saat jam kosong, siswa yang jatuh cinta, berkelahi dan konflik di kelas lainya, untuk menjaga penonton tetap terhibur.
‘’Selain itu karena penonton juga ikut berperan, kami harus pintar-pintar berimprovisasi supaya cerita tetap seru dan tetap sesuai alur,” tandasnya.
Tentu tidak digarapnya sendirian, berusaha mengumpulkan materi-materi stand-up dari komika Guntur Riyanto, yang penuh dengan cerita pribadi dan keresahan.
Kesuluruhan materi yang syarat akan unsur komedi tersebut, dilengkapinya dengan kepiawaian anggota dalam bermain peran.
‘’Melalui konsep kelas SMA, kami ingin penonton merefleksikan masa lalu mereka. Sehingga kami bisa menarik kesimpulan bahwa masa lalu, baik atau buruk, tidak bisa diulang. Yang bisa kita lakukan adalah menghargai bagaimana masa lalu membentuk siapa kita sekarang,” pungkasnya. (*/msu)
Baca Juga: Teater Gabud, Ruang Ekspresi Dinamika Sosial Keliling Desa, Sulap Rumah Warga Jadi Panggung
Hal senada juga diungkapkan oleh aktor utama, Guntur, pria asal Kecamatan Dander tersebut, merasakan benar bahwa pertunjukan ini menghapus batasan antara penonton dan pemain, menjadikan setiap penonton bagian tak terpisahkan dari alur cerita.
Dalam “Kelas Unggulan,” dinding keempat dalam istilah teater yang sering dianggap memisahkan penonton dari panggung benar-benar dihilangkan. Penonton tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga berperan aktif dalam pementasan, merasakan dan mengalami langsung suasana kelas yang diciptakan oleh para aktor.
Penonton berperan sebagai siswa dan bergabung langsung bersama para pemain di sebuah kelas yang dipandu oleh seorang guru Sejarah. Namun, alih-alih menggunakan metode konvensional yang bergantung pada catatan akademis, kelas ini mengusung pendekatan yang lebih personal.
‘’Pelajaran Sejarah disampaikan melalui narasi mendalam mengenai perjalanan hidup sang guru, menawarkan wawasan yang lebih intim dan reflektif tentang masa lalu,” ungkap Guntur.
Dengan cara ini, penonton diundang untuk merenung dan mengevaluasi bagaimana masa lalu membentuk kepribadian mereka, memperkaya makna hidup, dan mengatasi krisis eksistensial dengan menguatkan nilai-nilai pribadi yang mendefinisikan identitas mereka. ‘’Akhirnya, penonton yang awalnya masih sungkan pun, akhirnya bisa lepas dan benar-benar ikut berperan sebagai siswa,” pungkasnya.
Editor : Yuan Edo Ramadhana