Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sulistyo Nurul Cahyanto, Pendiri Kelompok Ternak Srono Makmur, Terapkan Sistem Silvopastura untuk Ketahanan Pangan

Hakam Alghivari • Senin, 24 Juni 2024 | 21:10 WIB
SILVOPASTURA: Sulistyo Nurul Cahyanto Bersama anggota Kelompok Ternak Srono Makmur di Desa Sumberbendo, Kecamatan Bubulan sedang mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik.
SILVOPASTURA: Sulistyo Nurul Cahyanto Bersama anggota Kelompok Ternak Srono Makmur di Desa Sumberbendo, Kecamatan Bubulan sedang mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik.

Masalah deforestasi hutan di wilayah Kecamatan Bubulan membuat Sulistyo Nurul Cahyanto resah. Sehingga, bertekad menggabungkan tiga sektor untuk ketahanan pangan. Yakni, sistem silvopastura, kombinasi tanaman pertanian, peternakan, dan kehutanan.


YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro

Tinggal di daerah perdesaan tidak membuat semangat pemudanya luntur. Bahkan, lebih terpacu untuk maju. Seperti asa pria kelahiran Desa Sumberbendo, Kecamatan Bubulan satu ini. Sulistyo Nurul Cahyanto namanya.

Lahir dari keluarga petani dan peternak membuat memiliki ketertarikan lebih di bidang pertanian dan peternakan hingga kehutanan. Karena tempatnya tumbuh tidak lepas dari kawasan hutan. Namun, karena masalah kerusakan alam yang kompleks membuatnya semakin resah.

Seperti deforestasi atau hilangnya tutupan hutan karena alih fungsi lahan menjadi pertanian, perkebunan, industri, hingga pembangunan perumahan. Sedangkan, menurut dia, Desa Sumberbendo, merupakan wilayah di Kecamatan Bubulan yang luasannya paling kecil.

Dan, 80 persen wilayahnya merupakan kawasan hutan. ’’Pertumbuhan penduduk semakin bertambah tidak berbanding lurus dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Sehingga, menyebabkan masyarakat bergantung pada hasil hutan. Ini menjadi satu masalah. Ketergantungan yang tidak terkontrol ini menyebabkan dampak ancaman luar biasa,” jelasnya.

Di antaranya kekeringan saat musim kemarau, banjir bandang di musim hujan, longsor, tanah tandus, hingga hilangnya ekosistem hayati di hutan. Kemudian, lanjut dia, masalah dialami masyarakat sekitar desanya lebih banyak dan tidak sekadar deforestasi hutan.

Namun, juga masalah pertanian dan peternakan. Dia mengatakan, pada sektor pertanian, karena luas wilayah yang kecil membuat masyarakat bertani di hutan. Tapi, masalahnya tidak mendapat pupuk subsidi sehingga kesulitan mengelola lahan pertanian dan hasilnya tidak maksimal.

Disusul problem lainnya di bidang peternakan di mana rerata masyarakat masih menggunakan cara tradisional. Jenis kambing ternaknya yang berukuran relatif kecil atau kambing kacang. Bahkan, ketika Idul Adha banyak kambing kurban didatangkan dari luar daerah.

Masih minim minat generasi muda untuk beternak. ’’Dari keresahan itu saya mendirikan kelompok ternak sejak 2015. Tujuannya, meningkatkan sumber daya manusia (SDM) masyarakat desa melalui program agrosilvopastura. Kolaborasi tanaman pertanian, peternakan, dan kehutanan agar hasil usaha masyarakat lebih maksimal dan produktif,” ungkap pria 28 tahun itu.

Sulistyo berharap dengan sistem silvopastura bisa membangun ketahanan pangan masyarakat areal hutan. Agar meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Dengan demikian, kata dia, kelompok ternak bernama Srono Makmur itu melakukan edukasi tata cara beternak yang bijak.

Baca Juga: Engki Edi Saputra, Desainer Muda Desa Asal Kecamatan Sukosewu, Sering Juarai Kompetisi di Bidang Fashion

Juga mengelola limbah ternak menjadi pupuk organik untuk pertanian, hingga bekerja sama dengan badan usaha milik desa (BUMDes) setempat dalam program pengembangan ternak kambing jantan untuk persiapan kurban maupun acara adat lainnya.

’’Kami harap Desa Sumberbendo, Kecamatan Bubulan menjadi contoh penerapan sistem silvopastura. Karena sistem ini memang layak untuk diterapkan khususnya bagi kami masyarakat areal hutan,” tutur sekretaris desa (sekdes) setempat itu.

Sementara itu, inovasi pangan besutannya kini berhasil meraih Juara 1 Pemua Pelopor Tingkat Provinsi. Di mana sebelumnya berhasil menyabet juara di tingkat kabupaten. Dia berharap, inovasinya dapat membangun ketahanan pangan berkelanjutan. (*/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#bojonegoro