Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ramai Hantavirus, Haruskah Kita Khawatir?

M
Penulis: M. Nurcholis❯
Evita Muslima Isnanda Putri, S.Kep., Ns., M.Kep
Evita Muslima Isnanda Putri, S.Kep., Ns., M.Kep

Advertisement

Tiga Poin Inti:

  • Sumber dan Cara Penularan: Hantavirus dibawa oleh tikus dan umumnya menular ke manusia melalui paparan urine, air liur, atau kotorannya (terutama saat partikel debunya terhirup). Penularan virus ini antarmanusia sangat jarang terjadi.

  • Gejala Infeksi: Gejala awal paparan Hantavirus mirip dengan flu biasa seperti demam, mual, dan nyeri otot, namun pada kasus yang parah dapat memicu gangguan pernapasan serius hingga masalah pada ginjal.

  • Langkah Pencegahan Utama: Risiko infeksi dapat ditekan dengan menjaga kebersihan lingkungan. Langkah praktisnya meliputi menutup akses masuk tikus ke rumah, menyemprotkan disinfektan sebelum membersihkan area yang terpapar kotoran tikus, dan rajin mencuci tangan dengan sabun.

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Belakangan ini istilah hantavirus mulai ramai diperbincangkan di media sosial dan berbagai pemberitaan internasional.

Banyak masyarakat mulai bertanya-tanya, apakah virus ini berbahaya? Apakah bisa menjadi pandemi baru? Dan sebenarnya seberapa besar risiko bagi masyarakat umum?

Advertisement

Kekhawatiran masyarakat tentu wajar. Apalagi nama virus baru sering kali langsung mengingatkan orang pada pengalaman pandemi beberapa tahun lalu.

Namun, di tengah derasnya informasi yang beredar, masyarakat perlu memahami hantavirus dengan tenang dan berdasarkan sumber kesehatan yang terpercaya.

Menurut World Health Organization (WHO), hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus.

Penularan pada manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi.

Virus ini sebenarnya bukan penyakit baru. Hantavirus telah lama dikenal di beberapa negara di kawasan Amerika, Eropa, dan Asia.

Namun, kemunculan berita terkait kasus hantavirus belakangan ini membuat masyarakat kembali memberikan perhatian terhadap penyakit yang berasal dari hewan pengerat tersebut.

Meski demikian, masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Hingga saat ini, penularan hantavirus pada manusia sebagian besar tetap berkaitan dengan paparan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi.

WHO juga menjelaskan bahwa penularan antarmanusia sangat jarang terjadi dan hanya ditemukan pada jenis tertentu dengan kontak yang sangat dekat.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Tren Wisata Kapal Pesiar ke Antartika Diprediksi Tetap Bakal Meningkat, Meski Hantavirus Meledak

Tren Wisata Kapal Pesiar ke Antartika Diprediksi Tetap Bakal Meningkat, Meski Hantavirus Meledak

Wabah Hantavirus mematikan di kapal pesiar Antartika merenggut 3 nyawa. Simak risiko pariwisata ekstrem, rencana biaya masuk Antartika, dan aturan baru hasil pertemuan 29 negara di Jepang.

Kasus Hantavirus Meledak 200% di Argentina, Apa yang Terjadi?

Kasus Hantavirus Meledak 200% di Argentina, Apa yang Terjadi?

Kasus Hantavirus di Argentina melonjak 2 kali lipat dengan tingkat kematian tragis. Hubungkan misteri kapal pesiar MV Hondius dan dampak perubahan iklim 2026.

23 Kasus Hantavirus Terdeteksi Sejak 2023, Jumlah Kasus Terbanyak di Jakarta!

23 Kasus Hantavirus Terdeteksi Sejak 2023, Jumlah Kasus Terbanyak di Jakarta!

Waspada ancaman Seoul Virus (Hantavirus) di Indonesia per Mei 2026. Kemenkes RI mencatat tingkat kematian 13%, dengan sebaran tertinggi di DKI Jakarta dan DIY. Pelajari cara penularan lewat tikus

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer