Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Pameran Karya Seni di Peringatan Bulan Menggambar Nasional, Geliat Kolaborasi Rayakan Bulan Menggambar

Hakam Alghivari • Kamis, 30 Mei 2024 | 20:15 WIB
PAMER KARYA: Dhadang SB, Koordinator Drawing Desa menunjukkan beberapa karya seniman di Bojonegoro Art Exhibition.
PAMER KARYA: Dhadang SB, Koordinator Drawing Desa menunjukkan beberapa karya seniman di Bojonegoro Art Exhibition.

Seniman Bojonegoro memaknai bulan menggambar nasional dengan kolaborasi antarperupa lintas kota hingga Jogyakarta,


 

DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro.

 

Suasana gayeng menyelimuti salah satu angkringan di Kelurahan Sumbang, Kecamatan Kota Selasa (28/5). Meski tampak seperti angkringan pada umumnya.

Namun, saat masuk ke dalam, tempat tersebut ternyata difungsikan sebagai galeri seni dengan puluhan lukisan di setiap dindingnya.

Benar saja, rutinitas seniman yang tergabung dalam ‘Drawing Desa’ tersebut, menjadi magnet tersendiri bagi pelaku seni tak hanya di Bojonegoro.

Gaung seniman di Kota Ledre itu pun menarik minat komunitas ‘Drawing Koloni’ yang berasal dari Yogyakarta untuk berkolaborasi pada Bojonegoro Art Exhibition (BEA).

Koordinator Drawing Desa Dhadang SB menceritakan, pemeran dengan tajuk “Kawan Lama Tiba Sebentar Saja” dipilih untuk menggambarkan ruang waktu sebagai pertemuan visual.

‘’Jejaring komunitas yang membuat menarik,” ungkap Dadang.

Bahkan, meski awalnya diprediksi hanya 40 karya, terus berkembang menjadi 94 karya.

Meski baru terbentuk sejak 2022, Drawing Desa terus berjejaring dengan komunitas tak hanya di Bojonegoro. Hal itu sejalan dengan tema yang dapat diinterpretasikan secara sosiologis sebagai hubungan komunikasi antar komunal.

Bahkan, budaya kolektif tersebut terus terus berwujud dan menarik minat seniman berbagai bidang.

‘’Berbagai kelompok dan komunitas mulai dari musik hingga film, tak segan mengisi panggung terbuka yang disediakan di depan ruang pameran,” imbuhnya.

Sejak pembukaan Minggu (26/5) sampai dengan penutupan pada 31 Mei mendatang, berbagai komunitas juga mengisi panggung terbuka, mulai dari kelompok musik Disharmonis, Keroncong Menang Gedhakan pada pembukaan, dan Thutak Thutuk Gathuk pada penuutupan.

Selain itu, musisi Bojonegoro Yuli Zedeng, Brian Armando, dan Soenarjono. Bahkan, komunitas apresiasi film ‘Rabu Menonton’ aktif mengisi ruang-ruang diskusi.

Sementara itu, Koordinator Bojonegoro Art Exhibition (BAE) Dwi Putra Puguh menyambut dengan hangat, pemuda kelahiran 1993 itu menyadari iklim kesenian di Bojonegoro masih terus berkembang, dan mulai menunjukkan geliatnya.

‘’Jika iklimnya terbentuk, maka pameran di mana pun akan tetap berjalan,” ungkapnya.

Hal itu juga yang mendasarinya untuk tetap konsisten dalam mengelola ruang-ruang seni alternatif di Bojonegoro. ‘’Tidak harus di gedung, karena wadah-wadah kecil pun tetap bisa. Meskipun diberi fasilitas, namun jika iklimnya tidak ada maka akan lebih sulit,” tutur alumni jurusan seni rupa murni Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu.

Pameran ini diikuti oleh perupa dari Drawing Koloni Yogyakarta, seperti Arya Pandjalu, Aliem Bachtiar, Aping, Budi Bodhonk Prakoso, Budi Palu, Edo Pop, Mayek Prayitno, dan Pandu Mahendra.

Sedangkan dari Bojonegoro, hadir perupa Agata Iskandar, Ayik Ndalem Garudeyan, Anugrah AH, Dhadang SB, Ekwanto, Puguh Kopitani, Sandi, Ubay, Sarwo Muji, Yuli Zedeng, Arif Solo, Bian Crengep, Luhung, dan Tacia Ruth. (dan/msu)

Editor : Hakam Alghivari
#Bea #bojonegoro