BLORA, Radar Bojonegoro - Pengurus Yayasan Fidarinnur Padangan Ahmad Wahyu Rizkiawan, mengungkapkan, para mushonef atau mualif (penulis kitab) dalam tradisi Islam memiliki ritual khusus. Mulai memilih lokasi penulisan, mempertimbangkan kesucian badan, hingga memilih waktu yang tepat.
Artinya, butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan penulisan kitab. Jika kitab tersebut diselesaikan pada 1820-1821 M, maka indikasinya ditulis beberapa tahun sebelum waktu penyelesaian.
Ini menunjukkan lokasi Kedungkluweh yang dicatat tentu sudah memiliki status keberislaman kuat seperti di Kedungkluweh. ’’Mbah Klotok memiliki kebiasaan menulis di sejumlah tempat. banyak kitab beliau tulis justru saat dalam perjalanan. Hal itu membuktikan Kedungkluweh tak hanya nama lokasi. Tapi, dipenuhi kolega atau para santri,” terangnya.
Pada tahun yang tak berjauhan, Mbah Abdurrohman Klotok juga menulis kitab berjudul Sanusiyah (Ummul Barahin) yang dihadiahkan pada para santrinya di wilayah Blora. Kitab ini selesai ditulis pada 16 Shafar 1237 H (12 November 1821 M). Catatan empiris yang menunjukkan hubungan intelektual antara Padangan dengan Blora benar-benar terjalin.
’’Pemot (pengingat), ingkang asohbihi (memiliki) kitab punika (ialah) Mas Ngabehi Surodikromo engkang putra mantu (anak menantu) Ranayudha, engkang dados lurah menteri (jadi kepala desa) ing Nagari Blora. Kabil mantu dening (menantu) Raden Kramadiwirya engkang putra Kiai Angga Kusumo”.
Sementara itu, Pengamat Sejarah Blora Totok menambahkan, nama-nama tokoh Blora yang tercatat dalam manuskrip merupakan para Sentana (orang keraton) yang berada di Blora. Hal itu terbukti dengan kalimat: “Lurah menteri ing Nagari Blora” yang tertulis dalam manuskrip.
Besar kemungkinan, mereka adalah para santri yang memiliki kedekatan khusus dengan Padangan. Buktinya, Mbah Abdurrohman Klotok sampai memberikan sebuah Kitab Sanusiyah kepada mereka. Totok mengaku menelusuri jejak tersebut, sehingga diketemukan situs Makam Sentono yang berada di pusat lokasi Kedungkluweh (saat ini Bangkle).
Hal itu menjadi petunjuk, bahwa lokasi tersebut merupakan jejak dakwah para “Sentono” yang bernama Mas Ngabei Surodikromo, Raden Ranayudha, Raden Kramadiwirya, hingga Raden Angga Kusumo. Para figur “Sentono” yang telah memiliki “Kitab Sanusiyah” sejak 1820 M. (luk/bgs)
Editor : Hakam Alghivari