Sesuai data BPS, tercatat 86 Umat Hindu di Bojonegoro. Salah satunya keluarga Endah Sulistyoroni. Saat Merayakan Hari Raya Nyepi di Bali. Sebagian warga lain memilih di rumah sendiri.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Radar Bojonegoro.
MALAM itu, rumah salah satu warga Umat Hindu di Bojonegoro gelap gulita, tak keluar rumah, berhenti dari aktivitas kendaraan menjadi rangkaian Umat Hindu dalam merayakan Nyepi.
Beberapa umat Hindu memilih menjalankan Nyepi di Pulau Bali. Tapi, sebagian memilih diam diri di rumah sendiri. ‘’Rerata Umat Hindu di Bojonegoro, menjalankan di rumah masing-masing,” ungkap salah satu Umat Hindu di Bojonegoro Endah Sulistyorini.
Perempuan yang pernah menjabat Ketua Persatuan Panahan Indonesian (Perpani) Bojonegoro itu menceritakan, meski Umat Hindu di Bojonegoro melewati Nyepi di rumah, namun tetap bisa menjalankannya dengan tenang.
Namun, sebagian juga masih menjalankan tradisi untuk datang ke Pulai Bali termasuk keluarganya. ‘’Untuk tahun ini, saya merayakannya di Bali bersama keluarga besar,” terangnya Selasa (12/3).
Menurutnya, sebagian besar Umat Hindu di Bojonegoro memang masih memiliki keluarga di Bali, meski sudah tinggal lama di Bojonegoro.
Beragam rangkaian Nyepi di Bali menjadi nilai tersendiri, termasuk berhentinya segala aktivitas dan suara. Hal itu, membuatnya pergi ke Bali sebelum berdekatan dengan hari H. Sementara itu, sebagai pemeluk Agama Hindu di Bojonegoro, ia berharap tetap bisa menjaga kerukukan di Kota Ledre. ‘’Semoga kita semua tak terkecuali, selalu menjaga kedamaian dan toleransi antaragama yang saat ini sudah terjadi dengan sangat-sangat baik,” ujar perempuan yang akrab disapa Bu Nyoman itu.
Menurutnya, meski terdapat tradisi untuk ke Bali selama Hari Raya Nyepi. Namun, hal itu bukan menjadi acuan untuk wajib ke sana saat hari raya besar. Sebab, sebagian Umat Hindu juga tetap menjalankan Nyepi di Bojonegoro saat memasuki Tahun Baru Saka, yang merupakan kalender yang digunakan umat Hindu sebagai acuan penanggalan.
Salah satunya, di rumah milik I ketut Sulasta, warga Desa Mulyoagung, Kecamatan Bojonegoro Kota, yang memilih tidak ke Bali untuk tahun ini karena sejumlah alasan.
Dia bersama keluarga menjalankan Nyepi di rumah, dengan menjalani empat larangan utama: amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak keluar rumah), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).
Menurutnya, Hari Raya Nyepi menjadi momentum untuk refleksi diri, dan dirinya menjalankan tapa brata di rumahnya. ‘’Tetap khidmat, meski kami menjalankan di rumah,” pungkasnya. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana