Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Menyegarkan Jawa Pos Radar Bojonegoro

Muhammad Suaeb • Jumat, 4 Agustus 2023 | 18:15 WIB

Bachtiar Febrianto, Direktur Radar Bojonegoro (ISTIMEWA FOR RDR.BJN)
Bachtiar Febrianto, Direktur Radar Bojonegoro (ISTIMEWA FOR RDR.BJN)

PERKEMBANGAN teknologi informasi telah memengaruhi kegiatan jurnalistik secara signifikan.  Saat ini semua orang bisa menjadi wartawan melalui media sosial (medsos). Banyak yang menilai, perkembangan itu mengancam eksistensi perusahaan media, khususnya media cetak/koran. Bahkan Philip Meyer (2004) dalam bukunya “The Vanishing Newspaper”  pernah memprediksi bahwa koran akan mati tahun 2043.

Namun, Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sugeng Winarno berpendapat lain. Menurut dia, bila koran gulung tikar, kondisi ini super bahaya. Bagaimana tidak bahaya, karena media cetak selama ini menjadi sumber rujukan utama masyarakat. Kalau koran sampai mati, sesungguhnya tak hanya para awak media yang dirugikan, namun masyarakat juga bakal kehilangan haknya dalam mendapatkan informasi dari sumber tepercaya.

Andai koran menghilang, risiko berita palsu (hoax) dapat meningkat, karena koran melewati proses editorial dan pengawasan yang ketat. Kehadiran media cetak yang beragam membantu mendorong kebebasan pers dan pluralisme informasi. Kehilangan media cetak dapat mengurangi variasi perspektif dan memengaruhi kebebasan media.

Hal itu berpotensi membuat kualitas literasi dan referensi masyarakat menjadi rendah. Karena kualitas literasi dan referensi rendah, tentu bisa berdampak pada pengambilan keputusan pada masyarakat juga menjadi rendah. Sehingga dampak utamanya yaitu membuat kehidupan suatu masyarakat/bangsa menjadi rendah pula.

Optimisme Sugeng Winarno tersebut cukup beralasan dan membesarkan hati bagi pekerja pers mainstreem. Setidaknya dibuktikan oleh jajaran media cetak di bawah Jawa Pos Radar (JPR). Semua perusahaan tersebut dalam kondisi baik dan tidak merugi. Bahkan ada yang oplah korannya justru meningkat. Kondisi itu menunjukkan masyarakat mulai melirik koran lagi, bisa jadi akibat sering disuguhi berita-berita hoax dan berita-berita negatif dari buzzer di medsos.    

Meski begitu perusahaan media tidak boleh hanya optimistis saja. Tapi harus terus melakukan adaptasi dan inovasi. Karena adaptasi dan inovasi  diperlukan untuk memastikan media cetak tetap relevan dan berkelanjutan di era digital saat ini.

Begitu juga dengan Jawa Pos Radar Bojonegoro. Meski memiliki oplah koran terbesar di wilayah Bojonegoro, Lamongan, dan Blora. namun, tidak berhenti untuk terus melakukan adaptasi dan inovasi.

Seperti yang dilakukan kemarin (3/8), koran yang juga memberikan pelayanan secara digital itu melakukan penyegaran di jajaran pimpinannya. Waluyo Cahyono menjabat plt (pelaksana tugas) general manajer (GM) merangkap manajer keuangan, Mohammad Suaeb menjabat pemimpin redaksi (pemred) cetak dan digital, Korij Zaenal Asrori manajer pemasaran, Agus Prasetyo manajer even, dan M. Nukozim manajer iklan merangkap kepala biro Blora. Sedangkan manajer digital dan online tetap M. Nurcholis. 

Menurut filsuf Bernadin dan Russell, rotasi pegawai merupakan perpindahan pegawai dari pekerjaan atau jabatan yang satu ke yang lain untuk memperluas pengalaman. Semakin luas pengalaman para pimpinan Jawa Pos Radar Bojonegoro, diharapkan akan semakin matang dalam memimpin perusahaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks saat ini. Khususnya dalam memberikan pelayanan terbaik baik mitra kerja dan pembaca Jawa Pos Radar Bojonegoro. Aamiin yra. (*)

Bachtiar Febrianto, Direktur Radar Bojonegoro

Editor : M. Yusuf Purwanto
#menyegarkan #umm #JPR #media sosial #hoax