Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Antara Bandara Ngloram, Cepu Raya, dan IKN

M. Yusuf Purwanto • Rabu, 3 Mei 2023 | 16:50 WIB
Bachtiar Febrianto, Direktur Radar Bojonegoro (ISTIMEWA FOR RDR.BJN)
Bachtiar Febrianto, Direktur Radar Bojonegoro (ISTIMEWA FOR RDR.BJN)
SEJAK Citilink berhenti beroperasi 22 Maret lalu, hingga kemarin (2/5) belum ada penerbangan lagi dari Bandara Ngloram Blora. Maskapai swasta nasional itu juga menarik diri dari Bandara Ngloram karena jasa transportasinya tidak mencapai angka minimum review atau batas minimal. Yakni sebesar Rp 135 juta setiap penerbangan dengan konsep pulang-pergi. (Radar Bojonegoro, edisi 25 April).

Kondisi tersebut cukup disayangkan. Padahal, Bupati Blora Arief Rahman sejak bandara diresmikan Presiden Jokowi pada 17 Desember 2021, telah bekerja keras menghidupkan bandara kebanggaan Blora tersebut.

Mas Bupati, panggilan akrab Arief Rohman, banyak membuat kegiatan daerah diarahkan ke Jakarta sehingga bisa memanfaatkan penerbangan dari Bandara Ngloram. Baik kegiatan pemerintah daerah maupun non-pemerintah.

Bahkan, Mas Bupati memilih berkantor di Jakarta pada Rabu dan Jumat, agar bisa mempromosikan penerbangan ke Blora. Terutama berkaitan pariwisata. Karena sudah disiapkan obyek dan paket wisata menarik, seperti kawasan budaya kampung Samin, wisata loko tour, dan lainnya.

Ternyata, berbagai upaya keras Mas Bupati belum membuahkan hasil maksimal. Sebetulnya sudah mulai meningkat trafiknya. Namun, harus diakui penerbangan dari Bandara Ngloram belum bisa memenuhi batas minimum tersebut. Lalu, kira-kira masalahnya ada di mana?

Menjawab pertanyaan itu, kita perlu mencermati bandara-bandara yang ada. Rata-rata bandara sudah berjaan baik, di dekatnya selalu ada kota transit. Misalnya, Bandara Juanda berada dekat dengan Kota Surabaya. Bandara Abdurahman Saleh dekat Kota Malang. Bandara Internasional Jogjakarta dekat Kota Jogjakarta. Bandara Adi Sumarmo dekat Kota Solo, dan lainnya. Kota-kota tersebut menjadi tempat transit penting bagi penumpang pesawat akan berangkat maupun pulang. Termasuk untuk menginap bagi kru pesawat. Misalnya, bila akan naik pesawat dari Bandara Juanda, banyak calon penumpang pesawat mampir dulu ke Kota Surabaya untuk shopping di Tunjungan Plasa (TP). Atau makan dulu di Rawon Setan Jalan Embong Malang. Bahkan ada juga ingin healing di tempat karaoke atau massage.

Begitu juga bila turun dari pesawat, akan melakukan hal sama. Sehingga kota transit menjadi sebuah kebutuhan sebuah bandara. Sebuah kota transit juga perlu dilengkapi fasilitas lembaga pendidikan dan kesehatan representatif agar banyak orang mau bertempat tinggal. Mereka akan berpotensi juga sebagai calon penumpang pesawat.

Nah, tampaknya Konsep Cepu Raya yang digagas Mas Bupati Arief bisa menjadi jawabannya. Program tersebut akan mengubah Kota Kecamatan Cepu

berkembang menjadi kota pusat perdagangan dan jasa. Sedangkan, Kota Blora menjadi kawasan pemerintahan. Konsep Cepu Raya mirip-mirip dengan skema Presiden Jokowi menjadikan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan menjadi ibukota pusat pemerintahan. Dan Jakarta menjadi pusat perdagangan dan Jasa.

Sehingga Cepu Raya merupakan program luar biasa dan strategis. Kalau berhasil, kebutuhan Kota Transit untuk Bandara Ngloram akan terpenuhi. Hanya berjarak sekitar 4,5 km dari Bandara Ngloram. Itu berarti semakin membuka peluang bandara lebih cepat ramai.

Orang Blora dan daerah-daerah sekitarnya tidak perlu jauh-jauh ke Solo, Surabaya, atau Semarang untuk naik pesawat. Cukup ke Bandara Ngloram. Apalagi ditunjang berbagai fasilitas sudah ada. Misalnya, aktivitas perminyakan, lapangan golf, stasiun, terminal, dan fasilitas perbankan. Tinggal melengkapi dengan pusat perbelanjaan, hiburan, dan kuliner representatif, serta infrastruktur kota lainnya agar bersih dan nyaman.

Tentu, Pemkab Blora tidak bisa merealisasikan sendiri. Membutuhkan dukungan biaya, regulasi, dan power besar dari pemerintah pusat dan provinsi. Karena juga memiliki kepentingan terhadap bandara tersebut. Jangan sampai nasib Bandara Ngloram sama dengan Bandara Internasional Kertajati di Jawa Barat yang mangkrak, yang kemungkinan besar karena tidak didukung dengan kota transit berskala besar. (*) Editor : M. Yusuf Purwanto
#pariwisata #Wisata #bandara ngloram #bojonegoro #Infrastruktur #Kota Transit #IKN