RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Hampir sebulan menghiasi bioskop Indonesia, Foufo baru menembus 366.082 penonton hingga akhir Juli 2026. Berdasarkan data Cinepoint, film yang mulai tayang pada 9 Juli 2026 itu juga telah mencatat 10.166 showtimes dengan skor 7,2 dari penonton.
Capaian tersebut menunjukkan Foufo masih mampu menarik perhatian penonton di tengah persaingan film-film baru di bioskop. Di sisi lain, film bergenre komedi fiksi ilmiah ini juga memunculkan beragam tanggapan. Sebagian penonton memuji humor dan sentuhan budaya lokal yang dihadirkan, sementara sebagian lainnya mengkritik pengembangan cerita, terutama pada konsep alien yang menjadi premis utama film.
Disutradarai Bayu Skak, Foufo mengisahkan kedatangan sosok alien bernama Foufo yang terdampar di sebuah desa. Premis tersebut membawa penonton pada berbagai situasi komedi yang dibalut dengan nuansa kehidupan masyarakat lokal.
Baca Juga: Fakta Menarik Konspirasi Kartun Anak 'SpongeBob SquarePants': Mitos atau Memang Disengaja ?
Premis Alien Dinilai Kurang Tergarap
Salah satu kritik datang dari kanal YouTube Mindplace. Dalam ulasannya, reviewer menilai konsep alien yang diangkat belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai fondasi cerita.
Menurutnya, film-film bertema alien umumnya menjadikan kehadiran makhluk luar angkasa sebagai simbol perubahan, ancaman, atau sarana untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu terhadap kehidupan di luar Bumi. Namun dalam Foufo, aspek tersebut dinilai tidak banyak dieksplorasi.
Reviewer menyebut kehadiran karakter Foufo lebih berfungsi sebagai pemicu komedi dibandingkan sebagai elemen penting yang memperkuat tema fiksi ilmiah. Karena itu, premis alien dianggap belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan cerita secara keseluruhan.
Baca Juga: Mengenal Ruck Walking, Olahraga Jalan Kaki dengan Ransel yang Efektif Membakar Kalori
Dialog Komedi Jadi Nilai Plus
Di balik kritik tersebut, Foufo tetap memperoleh banyak apresiasi, terutama pada kekuatan komedi yang dibangun melalui dialog antartokohnya.
Reviewer Mindplace mengaku tidak menyangka film ini mampu menghadirkan humor yang efektif hanya melalui percakapan sederhana antarkarakter. Komedi berbasis dialog tersebut dinilai menjadi salah satu kekuatan terbesar film sejak awal hingga pertengahan cerita.
Selain mengundang tawa, film ini juga dianggap berhasil menyampaikan pesan-pesan positif tanpa terasa menggurui. Pendekatan tersebut membuat unsur komedi tetap menjadi daya tarik utama bagi penonton.
Penggunaan Bahasa Madura Tuai Apresiasi
Hal lain yang menuai pujian adalah keberanian Bayu Skak menghadirkan unsur budaya lokal dalam film.
Mindplace secara khusus menyoroti penggunaan bahasa Madura dalam sejumlah adegan. Menurut reviewer, langkah tersebut menjadi sesuatu yang cukup berani karena masih jarang ditemukan dalam film komersial Indonesia.
Penggunaan bahasa daerah dinilai memberi identitas yang kuat sekaligus memperkaya warna cerita. Sentuhan lokal tersebut juga menjadi pembeda dibandingkan banyak film komedi Indonesia yang cenderung menggunakan bahasa Indonesia secara dominan.
Baca Juga: Kenalan Sama Uut Bambang Sugeng, Ayah Luna Maya yang Punya Darah Bojonegoro
Masih Menemukan Penontonnya
Terlepas dari kritik terhadap pengembangan premis fiksi ilmiahnya, capaian 366.082 penonton hingga akhir Juli menunjukkan Foufo tetap mampu menemukan audiensnya.
Dengan total 10.166 kali penayangan dan skor 7,2 di Cinepoint, film ini memperlihatkan bahwa kekuatan komedi, karakter yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta nuansa budaya lokal masih menjadi daya tarik bagi sebagian penonton.
Respons yang beragam tersebut menjadikan Foufo sebagai salah satu film Indonesia yang cukup banyak diperbincangkan sepanjang penayangannya di bulan Juli. Bagi sebagian penonton, premis alien mungkin belum dimanfaatkan secara maksimal. Namun bagi yang lain, dialog yang menghibur, pesan yang disampaikan, dan keberanian mengangkat budaya lokal menjadi alasan mengapa film ini tetap layak disaksikan. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari