RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Niat hati ingin merajut kasih di Negeri Gajah Putih, selebgram Clara Shinta justru harus menelan pil pahit. Momen liburan di Bangkok, Thailand, yang seharusnya penuh kehangatan, mendadak berubah menjadi drama konfrontasi panas setelah Clara diduga memergoki sang suami, Muhammad Alexander Assad, melakukan panggilan VCS (video call s*x) tak senonoh dengan wanita lain.
Kejadian yang pecah pada Senin (30/3/2026) ini memicu gelombang simpati sekaligus perdebatan hangat di jagat maya mengenai batas privasi dan oversharing di media sosial.
Kronologi "Pagi yang Gemetar" di Kamar Hotel
Melalui unggahan Instagram Story yang kini telah dihapus, Clara membagikan momen emosional saat dirinya membangunkan sang suami di kamar hotel. "PAGI-PAGI GEMETAR NEMUIN INI," tulisnya dengan nada terpukul.
Baca Juga: Pengadilan Agama Bojonegoro: Judol dan Selingkuh Hancurkan 637 Keluarga Hingga Sebelum Lebaran 2026
Dalam video singkat yang sempat beredar, Clara memperlihatkan bukti panggilan video di mana sang suami dan seorang wanita di layar tampak tidak mengenakan busana. "Pah, tega banget kamu ya, kayak gini ya, video call-an sama cewek," ucap Clara dengan suara bergetar menahan tangis. Situasi terasa semakin mencekam karena Clara mengaku merasa terisolasi tanpa dukungan keluarga di negara orang.
Antara Emosi Spontan dan Penyesalan Oversharing
Sadar unggahannya memicu kegaduhan, Clara segera menghapus konten tersebut dan melayangkan permintaan maaf kepada publik. Ia menegaskan bahwa aksinya bukan demi konten atau mencari simpati belaka (clout chasing), melainkan murni luapan emosi manusiawi.
"Aku minta maaf. Aku bukan oversharing, tapi kalian pasti tahu rasa gemetarnya kayak apa," ungkapnya. Fenomena ini sering kali disebut sebagai digital lashing out, di mana seseorang yang sedang dalam tekanan emosional hebat mencari validasi atau ruang aman di media sosial.
Jejak Konflik: Dari Silent Treatment hingga Ledakan di Bangkok
Drama ini bukanlah badai pertama bagi rumah tangga mereka. Menarik ke belakang, pada Oktober 2025, Clara sempat curhat mengenai sikap suami yang kerap melakukan silent treatment. Meski pada November 2025 ia mengaku menyesal telah mengumbar masalah pribadi ke publik, kejadian di Bangkok ini seolah menjadi puncak dari tumpukan masalah yang belum terselesaikan.
Hingga artikel ini diterbitkan, pihak Muhammad Alexander Assad belum memberikan pernyataan resmi atau klarifikasi terkait tudingan serius tersebut.
Dampak Psikologis Perselingkuhan di Era Digital
Kasus yang dialami Clara Shinta mencerminkan tantangan berat pasangan di era digital. Menurut studi yang dipublikasikan dalam Journal of Marital and Family Therapy, perselingkuhan digital (termasuk VCS atau cybers*x) memiliki dampak traumatis yang hampir setara dengan perselingkuhan fisik.
Baca Juga: Diduga Selingkuh, Pemuda asal Japah Dikeroyok di Desa Srigading, Berakhir Saling Lapor ke Polisi
Pengkhianatan ini sering kali memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD) pada pasangan yang dikhianati, terutama jika terjadi saat mereka sedang berada jauh dari lingkungan pendukung (support system) seperti yang dialami Clara di luar negeri.
Ujian Berat di Tengah Liburan
Kasus ini meninggalkan tanya besar bagi publik: Apakah rumah tangga mereka akan mampu bertahan, ataukah drama Bangkok ini menjadi titik final bagi keduanya? Satu hal yang pasti, keberanian Clara untuk jujur tentang kerapuhannya di media sosial kembali membuka diskusi penting tentang kesehatan mental dan kesetiaan dalam pernikahan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko