RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di tengah kontroversi mengenai kualitas grafis dan alur cerita, film Merah Putih One For All garapan Endiarto, Toto Soegriwo dan Bintang Takari masih menjalankan tayang perdana pada Kamis (14/8). Sebagian masyarakat Indonesia menyempatkan diri untuk menonton film tersebut, berhubung penasaran akan hasil akhir film tersebut di layar sinema.
Hasilnya sesuai dugaan, film tersebut banjir kritik dari berbagai sisi. Bahkan menurut data yang diperoleh aplikasi pengumpul statistik sinema Indonesia, Cinepoint, jumlah penonton film yang dibuat di bawah panji Perfiki Kreasindo tersebut sangat sepi.
Di hari penayangan film, tercatat hanya 720 penonton yang rela meluangkan waktu untuk menonton film Merah Putih. Sementara itu, meskipun perusahaan Cinepolis batal menayangkan film tersebut, Merah Putih masih dapat ditayangkan sebanyak 85 kali.
Sebagai pengingat, Cinepolis mengambil keptutusan untuk membatalkan penayangan film tersebut tepat di hari penayangan perdana. “Film Merah Putih: One For All, yang sebelumnya dijadwalkan tayang untuk menyambut momen kemerdekaan, resmi tidak jadi ditayangkan di seluruh jaringan Cinepolis Indonesia,” bunyi rilis resmi perusahaan.
Sebagai perbandingan, film Tinggal Meninggal yang memiliki jadwal tayang serupa telah diputar 2.221. Kemudian, film tersebut telah ditonton oleh 21.307 penggemar sinema sepanjang minggu ini.
Sementara itu, La Tahzan bahkan lebih kuat lagi posisinya dengan 3.366 kali penayangan film. Bahkan film tersebut sudah ditonton oleh 81.807 pengunjung bioskop.
Tidak hanya statistik, para sineas dan penonton film juga sudah angkat bicara mengenai film animasi tersebut. Sutradara legendaris Hanung Bramantyo mengaku sengaja menonton, karena tidak adil jika hanya menilai dari promosinya saja.
“Memang seperti yang saya duga film itu belum selesai untuk dibuat. Saya merasa bahwa itu terlalu dipaksa, dipaksakan untuk ditampilkan,” jelas Hanung kepada awak media nasional pada hari pertama penayangan.
Salah satu penonton, Muhammad Iqbal mengaku menonton film tersebut di salah satu bioskop di Surabaya. Dalam catatannya, banyak sekali hal yang jadi sorotan dalam film tersebut.
“Premis dan naskah cerita terlalu sederhana, tidak jauh-jauh dari yang dipromosikan dan berulang-ulang. Namun animasi, sinematografi dan tata suara sangat berantakan. Menonton promosinya saja sudah cukup untuk menyimpulkan keseluruhan film,” komentar Iqbal kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro, sebagaimana juga tertuang di media sosialnya.
Diketahui, film Merah Putih One For All dikerjakan dengan biaya Rp 6,7 miliar, namun dengan waktu pekerjaan sangat singkat, yakni kurang dari tiga bulan sebagaimana klaim dari Bintang Takari dan Toto Soegriwo.
Selain itu, Bintang dan Endiarto dituduh melakukan pencurian aset tiga dimensi dalam proses pengerjaan film tersebut. Aset yang dipakai juga dipertanyakan, berhubung bersifat militeristik dan tidak cocok untuk animasi anak, seperti adanya senjata dalam gudang.
Merah Putih One For All sendiri menceritakan delapan anak dari latar belakang suku berbeda yang ditugasi kepala desa mereka mencari bendera merah putih yang hilang. Para bocah tersebut melewati banyak rintangan dalam mencari bendera tersebut, baik halangan dari luar maupun dalam kelompok tersebut. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana