RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Permintaan kaos dan jersey custom di Bojonegoro dalam setahun terakhir terus menunjukkan tren peningkatan.
Namun, di balik ramainya pesanan, pelaku usaha garmen lokal Bojonegoro masih dihadapkan pada berbagai tantangan.
Mulai dari ketatnya persaingan hingga kenaikan harga bahan baku yang menekan biaya produksi.
Pelaku usaha kaos custom asal Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro Achmad Syaifur Rohman mengatakan, peningkatan permintaan terjadi karena produk yang dihasilkan mulai diterima dengan baik oleh konsumen.
“Dalam setahun terakhir naik terus karena mulai diterima konsumen, ketepatan waktu dan quality control juga diperhatikan,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat operasional usaha berjalan tanpa hambatan.
Saifur mengakui, persaingan antarusaha garmen di Bojonegoro cukup ketat. “Persaingan di Bojonegoro cukup ketat, jadi kita berinovasi terus, misalnya jemput bola, keramahan ke konsumen, dan mengusahakan kualitas yang terbaik,” katanya.
Tantangan lain yang dihadapi berasal dari sektor produksi, terutama terkait ketersediaan tenaga kerja.
Pria lulusan sarjana ekonomi itu menilai proses menjahit dan sablon kaos membutuhkan keterampilan khusus.
“Tantangan terberat sulitnya mencari tenaga profesional di produksi. Menjahit dan sablon itu seperti seni, perlu keterampilan dan ketelitian,” ucapnya.
Tekanan terbesar, menurut Saifur, justru datang dari naiknya harga kain di tingkat pabrik. Kondisi tersebut berdampak langsung pada biaya produksi, sementara pelaku usaha masih berhati-hati menaikkan harga jual.
“Yang paling berat naiknya harga kain di pabrik katunnya. Sedangkan di lapangan kita takut menaikkan harga,” ujarnya.
Situasi tersebut membuat pelaku UMKM harus pandai menyeimbangkan harga, kualitas, dan daya beli konsumen.
Di tengah permintaan yang terus meningkat, margin usaha dinilai semakin ketat akibat faktor biaya yang sulit dikendalikan.
Ke depan, dirinya berharap adanya pabrik kain berskala besar di wilayah Bojonegoro. Menurutnya, kehadiran industri hulu seperti di Bandung dan Surabaya dapat membantu menurunkan biaya produksi.
“Kalau ada pabrik kain besar, HPP (harga pokok produksi) bisa turun dan Bojonegoro bisa dikenal sebagai sentra advertising,” katanya.
Di tengah tekanan biaya dan persaingan, pelaku usaha garment lokal dituntut untuk tetap adaptif dan inovatif.
Meningkatnya permintaan menjadi peluang, namun tantangan struktural seperti bahan baku dan tenaga kerja masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu perhatian lebih luas. (kam/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko