RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di tengah derasnya arus digital, generasi muda Bojonegoro mulai banyak menekuni dunia kreatif dan menjadikannya sebagai profesi. Mulai dari konten kreator, desainer grafis, videografer, fotografer, hingga penulis lepas, mereka mengandalkan ide, keterampilan, dan jaringan internet sebagai modal utama.
Namun, di balik semangat tersebut, kenyataannya pekerja kreatif di Bojonegoro masih berjalan sendiri-sendiri, tanpa dukungan ekosistem yang memadai. Ruang lokal untuk menampilkan karya masih terbatas, sementara inkubator kreatif resmi yang mampu menghubungkan mereka dengan pasar maupun investor juga belum tersedia.
’’Kalau mau berkembang, harus ke luar kota. Di sini masih minim wadah, jadi kerja kreatif masih dianggap sampingan,” ungkap Bagas, desainer grafis asal Kecamatan Balen.
Hal serupa disampaikan Videografer Haryo Tedjo. Menurutnya, fasilitasi dari pemerintah selama ini hanya sebatas penyediaan alat atau ruang, belum menyentuh kebutuhan industri kreatif yang lebih luas.
’’Ngaruhnya cuma di fasilitator. Kalau sekarang, makin ke sini tuntutannya di industri kreatif harus bisa cari celah biar bisa berdiri sendiri,” ujarnya. Haryo menambahkan, industri kreatif di Bojonegoro selama ini justru bertahan karena adanya event-event yang membutuhkan tenaga kreatif dalam jumlah besar.
Namun, pasar sebenarnya lebih banyak berada di luar daerah. ’’Jadi kalau mau serius, pekerja kreatif di Bojonegoro memang harus bisa membaca peluang di luar,” imbuh pegiat film di Komunitas Rabu Menonton. (dan/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana