CEPU, Radar Bojonegoro - Setiap pagi, Pasar Plaza Cepu selalu ramai. Geliat perekonomian di pasar itu digerakkan pedagang antar wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hal itu menjadi prototipe gagasan Cepu Raya di level paling dasar sendi ekonomi masyarakat.
Diketahui, sesuai arahan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno, Cepu Raya digagas merupakan kawasan pembangunan dan kegiatan ekonomi mencakup Kabupaten Blora, Jawa Tengah dan sebagian Kabupaten Ngawi, Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur.
Namun, dari segi fasilitas pasar masih butuh ditingkatkan. Lantaran, sebagian para pedagang masih menggunakan area jalan untuk menjajakan dagangannya di pagi hari.
Kepala UPTD Pasar Plaza Cepu Hartono mengungkapkan, para pedagang yang menempati pasar plaza berjumlah 509. Meliputi 111 kios, 155 los, dan 243 dasaran atau lesehan. Pada pagi hari, aktivitas jual beli selalu ramai.
Banyak pedagang dari Bojonegoro dan Cepu yang memanfaatkan untuk berjualan. ’’Pedagang ada yang dari Kecamatan Padangan, Kasiman, dan Cepu. Setiap pagi hari selalu ramai pada belanja kebutuhan dapur,” ungkapnya.
Terkait gagasan Cepu Raya di bidang perekonomian, menurutnya geliat pasar plaza merupakan salah satu contoh integrasi masyarakat yang sudah terjalin antar dua kabupaten. ’’Para pedagang dan pembeli sudah menjalin hubungan perekonomian sejak lama,” ungkapnya.
Hartono mengatakan, pedagang menggunakan sebagian jalan untuk menjajakan dagangannya. Hal itu memudahkan pengunjung berbelanja. Ketika ditanya terkait kisaran perputaran uang yang terjadi di lokasi, pihaknya mengaku belum pernah menghitungnya. ’’Kalau itu kami belum pernah menghitung,” katanya.
Sumarsih, salah satu pedagang mengaku berjualan sejak delapan tahun lalu. Lokasi yang strategis dan pembeli dari lintas provinsi menjadi daya tarik. Terlebih, saat pagi banyak keluarga yang berbelanja untuk memasak sehari-hari.
’’Iya pernah dengar ada namanya Cepu Raya, tapi tidak tahu bagaimana jadinya,” ujarnya. Menurutnya, jika adanya Cepu Raya dan pasar bisa dibangun untuk kedua wilayah, maka tentu akan lebih baik. Sebab, selain orang Cepu, yang memanfaatkan juga banyak dari Bojonegoro. ’’Kalau kami terima-terima saja, yang penting bisa berjualan,” katanya.
Kepala Bidang (Kabid) Pasar Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah (Dindagkop UKM) Blora Margo Yuwono mengatakan, geliat pasar bisa menjadi salah satu bentuk pengembangan gagasan Cepu Raya. Namun, masih dalam skala kecil.
Karena distribusi dan perputaran ekonomi masih di antara rumah tangga. ’’Melihat kondisi riilnya, hubungan jual beli antarmasyarakat dua kabupaten,” terangnya. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana