Tahun lalu, tidak ada setengah hasil produksi padi di Bojonegoro disetor ke Bulog. Para petani lebih memilih menjual hasil panennya ke tengkulak. Tengkulak sendiri kebanyakan menjual padi ke luar kota.
Salah satu tengkulak asal Kecamatan Dander mengatakan, hampir keseluruhan beras yang dibeli dari petani disetor ke luar kota. Seperti Kediri, Jember, Jombang, hingga Banyuwangi. Menurutnya, harga beras di luar kota lebih tinggi dan lebih untung.
‘’Hampir seluruh teman-teman tengkulak setornya ke luar kota. Jarang dijual di Bojonegoro, apalagi dijual langsung ke pasar. Terutama untuk penebas,’’ ujarnya kemarin (13/3).
Kepala Bidang (Kabid) Sarana Prasarana dan Perlindungan Tanaman Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Retno Budi Widyanti mengatakan, total produksi padi di Bojonegoro pada 2022 mencapai 870 ribu ton. Sementara, total produksi 2023 belum diketahui pasti.
Sebelumnya, Kepala Dinas DKPP Helmy Elisabeth mengatakan, Bojonegoro pada Februari tercatat sedang masa panen raya seluas 45 ribu hektare. Kalau disetarakan dengan gabah kering panen (GKP), hampir mencapai 270 ton. Kalau disetarakan beras, kurang kebih 165 ribu ton.
Pimpinan Cabang Bulog Bojonegoro Sugeng Hardono mengatakan, serapan padi atau GKB di Bulog pada 2022 mencapai 3.800 ton. ‘’Sedangkan, pada Januari hingga Sabtu (11/3) serapan mencapai 230 ton,’’ katanya.
Dia menambahkan, hasil panen disetor ke bulog ini melalui skema gabah atau beras cadangan beras pemerintah (CBP). Hasil pengadaan CBP akan menjadi stok stabilisasi harga konsumen. ‘’Dari Bulog nanti disalurkan melalui ritel atau dijual melalui kios pasar. Selain itu melalui distributor,’’ jelasnya.
Sebelumnya Sugeng mengatakan, terkait efisiensi distribusi, tetap lebih efisien pola pendek. ‘’Kalau rantai tidak terlalu panjang, potensi melakukan pelanggaran pada harga juga lebih kecil,’’ ujarnya. (ewi/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto