BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Sebanyak 1.551 jemaah haji Bojonegoro telah sampai di Makkah Selasa (21/5). Kedatangannya bergantian, dimulai jemaah kloter 1 pada Senin (20/5). Kemudian kloter 2,3 dan 4 baru tiba hari Selasa.
Selanjutnya 83 jemaah kloter 6 dan 4 jemaah kloter 7 yang bergabung dengan Kabupaten Lamongan juga telah sampai di Makkah Selasa (21/5).
Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro Abdulloh Hafidz mengatakan, para jemaah haji Bojonegoro dengan sehat dan semangat telah berangkat dari Madinah menuju Makkah sesuai dengan jadwal masing-masing kloter.
Para jemaah bergeser ke Makkah dengan menggunakan bus. Dengan pakaian ihram para jemaah bergeser menuju ke Makkah dengan bacaan kalimat talbiah.
‘’Jemaah melakukan rangkaian ibadah umrah wajib saat sampai di Makkah. Meliputi, tawaf tujuh putaran dan sai tujuh kali. Kemudian, tahallul ditandai dengan menggunting rambut,’’ jelasnya via ponsel.
Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Masyarakat Madani Bojonegoro Sholikin Jamik mengatakan, para jemaah Bojonegoro sudah melakukan perjalanan dari Madinah ke Makkah.
Kemudian, melakukan umrah sebagai rangkaian dari ibadah haji. Jadi, para jemaah melakukan umrah terlebih dulu, baru melaksanakan haji. Hal ini sering dikenal dengan haji tamattu.
Seluruh jemaah sudah mendapat bekal saat manasik haji. Tentang rukun umrah yang harus dipahami. Yakni, mulai memakai pakaian ihram, melakukan tawaf, sai, hingga tahallul.
‘’Rangkaian dan rukunnya harus dipahami. Apabila rukun ini ditinggalkan akan menyebabkan tidak sahnya ibadah umrah,’’ ujarnya.
Dia menyampaikan, haji merupakan ibadah fisik yang memiliki rangkaian panjang mulai Madinah hingga ke Makkah. Sehingga, persoalan kesehatan menjadi penting.
Para jemaah harus menjaga kesehatan, termasuk untuk mencuri-curi waktu buat istirahat. Hal ini bertujuan untuk menjaga energi agar kesehatan tetap bagus selama melaksanakan ibadah haji.
‘’Seluruh persoalan dalam ibadah haji akan selesai ketika kita yakin bahwa apa yang dilakukan merupakan wujud persembahan kepada Allah sebagai bentuk ibadah,’’ pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Hakam Alghivari