BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Proses pelunasan biaya perjalanan haji (Bipih) terus berlangsung hingga Senin (12/2) nanti. Selain fokus mempersiapkan istithaah kesehatan, agar dapat melakukan pelunasan.
Beberapa calon jemaah haji (CJH) sedang dalam proses pengurusan paspor. Sedangkan, untuk perekaman biovisa masih menunggu proses pembuatan paspor selesai. Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro Abdulloh Hafidz mengatakan, saat ini masih fokus untuk percepatan pelunasan Bipih dan paspor.
Perihal paspor sudah dalam proses di imigrasi sejak Senin lalu (22/1). Proses pembuatan paspor berlangsung dengan jumlah sekitar 50 CJH setiap harinya. ’’Proses pengurusan paspor berjalan dengan lancar. Karena sudah ada komunikasi baik dengan pihak imigrasi,” ujarnya.
Dia menyampaikan, beberapa CJH Bojonegoro sudah memiliki paspor. Bagi CJH yang telah memiki paspor, sudah dilaksanakan perekaman biovisa di Kantor Kemenag Bojonegoro. Sekitar 100 CJH telah melakukan perekaman biovisa. ’’Dalam proses biovisa, tidak terdeteksinya wajah dan sidik jari menjadi kendala paling banyak ditemui,” lanjutnya.
Permasalahan dalam perekaman biovisa kepada para CJH yang telah memiliki paspor ini, menurut Hafidz, sama seperti tahun sebelumnya. Yakni, sidik jari dan wajah sulit terdeteksi. Berdasar dari pengalaman sebelumnya, untuk permasalahan sidik jari tidak terdeteksi telah ditemukan solusi.
Yakni, dengan memberikan karbon hitam pada pensil di jari. Dengan begitu, sidik jari bisa terlihat lebih jelas dan terdeteksi. ’’Untuk tidak terdeteksinya wajah belum ditemukan cara mengatasinya. Namun, setelah dilakukan perekaman berulang-ulang. Tetap bisa terekam, hanya saja membutuhkan waktu lebih lama. Karena harus diulangi beberapa kali,” jelasnya.
Dia menceritakan, permasalahan tidak terdeteksinya wajah kebanyakan terjadi pada CJH yang telah berumur. Sebab, fotonya berbeda. Saat foto ketika masih muda. Sedangkan, foto baru terlihat sudah tua.
Permasalahan kantung mata juga cukup menyulitkan. Saat perekaman, dalam aplikasi terimbau melepaskan kacamata. Padahal tidak berkacamata. Tapi, karena kantung matanya cukup tebal. Sehingga, terdeteksi bahwa CJH tersebut memakai kaca mata di aplikasi. ’’Perekaman biovisa akan dijadwalkan kembali setelah pengurusan paspor selesai,” pungkasnya. (ewi/bgs)
Editor : Hakam Alghivari