BLORA, Radar Bojonegoro – Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi sapi di Blora tahun ini 173.225 ekor. Jumlah tersebut turun 112.275 ekor dari data populasi sapi BPS 2022 berjumlah 285.500 ekor. Kondisi tersebut ditengarai karena wabah penyakit pada sapi yang merebak tahun lalu.
Namun, jumlah tersebut diklaim masih tertinggi di Jawa Tengah. Kepala BPS Blora Nurul Choiriyati memaparkan, pada survei petanian tahun ini, jumlah sapi di Blora memang menurun dibanding 2022. Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan beberapa faktor.
Yakni, merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang terjadi tahun lalu. ’’Penyebab turun salah satunya karena PMK. Tapi yang lainnya, sapi kita banyak juga yang dikirim ke luar daerah,” terangnya.
Nurul melanjutkan, walaupun terjadi penurunan, populasi sapi di Blora masih menempati posisi teratas dan terbanyak se-Jawa Tengah. Selain itu, kualitas sapi di Kota Sate tersebut berkualitas bagus. Sehingga, banyak peminat dari luar daerah.
’’Sapi kita termasuk kualitas bagus. Kalau populasi sapi itu kan tidak bisa kita hitung terus menerus. Karena, sapi itu ada yang dijual atau mati,” katanya.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora Ngaliman mengatakan, walaupun terjadi penurunan populasi, namun jumlahnya masih tertinggi di Jawa Tengah dan nomor dua se-Indonesia. Pihaknya masih terus mengupayakan agar populasi sapi terus meningkat dan berkualitas.
’’Termasuk kemarin dapat penghargaan kabupaten terinovatif dengan salah satunya inovasi di bidang pertanian,” katanya.
Diketahui, PMK merebak di Blora pada 2022 lalu. Ribuan sapi terjangkit, beberapa sapi meninggal positif PMK dan ratusan sapi sembuh karena adanya vaksin PMK. Program vaksinasi terus dilakukan hingga awal 2023 lalu untuk mengantisipasi banyaknya sapi yang mati. (luk/bgs)
Editor : Hakam Alghivari