BLORA, Radar Bojonegoro - Meski telah memasuki musim hujan, status siaga darurat kekeringan belum dicabut. Dropping air dari P-APBD 2023 terus dilakukan. Sebab, hujan belum merata di semua kecamatan. Sehingga, warga masih membutuhkan suplai air bersih.
’’Dropping air terus dilakukan, masih banyak warga membutuhkan air bersih. Kemarin kami salurkan di Desa Genjahan, Kecamatan Jiken,” ujar Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora Agung Tri kemarin (23/11).
Ia juga menyampaikan, bahwa status kedaruratan masih berlaku hingga pertengahan Desember. Mengingat hujan belum merata, meski sudah memasuki musim hujan. ’’Sebelum P-APBD 2023, anggaran dropping air bersih ludes terpakai. Sehingga, usai mendapat anggaran beberapa bulan lalu, bantuan air bersih terus digencarkan,” bebernya.
BPBD Blora mencatat, bahwa 14 kecamatan terdiri atas Kecamatan Jati, Jiken, Jepon, Japah, Kedungtuban, Randublatung, Blora, Banjarejo, Tunjungan, Ngawen, Kunduran, Bogorejo, Cepu, dan Sambong terdampak. Sebanyak 185 desa mengalami kesulitan air bersih.
Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan dan Logistik BPBD Blora Sri Wahyuningsih mengatakan, kekeringan yang melanda daerah belum menunjukkan penurunan. Sehingga, belum ada penetapan aman dari status tanggap bencana kekeringan.
’’Ke depannya akan ada beberapa kajian yang akan kami sampaikan ke pimpinan terkait becana kekeringan ini,” katanya.
Tercatat, sebanyak 250 tangki air dari anggaran APBD yang telah dikirim kepada masyarakat terdampak. Lalu, sebanyak 553 tangki air yang bersumber dari bantuan tidak terduga (BTT) dan 1.041 tangki air dari elemen masyarakat yang diperuntukkan kepada korban terdampak kekeringan. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana