BLORA, Radar Bojonegoro - Aroma rempah dan tekstur lembut daging ikan Jendil menggoyang lidah pecinta kuliner di kawasan Sumberpitu, Kecamatan Cepu. Suasana tampak lebih syahdu, karena bisa merasakan kulineran di tepi Bengawan Solo dan di bawah rindang bambu.
Rasa daging ikan gurih dan lumer di mulut jadi cita rasa khas salah satu jenis ikan endemik Bengawan Solo itu. Masyarakat menyebutnya Garangasem Jendil, perpaduan asam pedas menyatu di mulut. Ikan tersebut diolah dengan dibungkus daun pisang. Diracik dengan rempah-rempah, sehingga menghilangkan bau tak sedap khas ikan jendil.
‘‘Mulai mencoba usaha makanan olahan ikan jendil setelah pandemi. Sebelumnya, wisata perahu. Ikan ini diambil dari sungai bengawan solo langsung,” ujar Nasripin, pemilik kulineran ikan bengawan Desa Sumberpitu.
Pria usia 60 tahun itu mengungkapkan, dalam mengolah ikan jendil butuh ketelitian ekstra. Sebab, bau ikan jendil sulit dihilangkan dan tak jarang empedu ikan jendil rentan pecah. ‘‘Kalau empedunya pecah, rasa dagingnya akan pahit,” katanya.
Ia mengungkapkan, sebelum pelanggan banyak, olahan Garangasem Jendil dimasak menggunakan kayu bakar. Namun, karena pesanan bertambah banyak, saat ini menggunakan kompor gas. Menurutnya, hal itu tak pengaruhi cita rasa. Karena lebih kepada bumbu dan proses pembersihan kotoran ikan. ‘‘Kalau menanak nasinya kami masih pakai kayu bakar,” terangnya.
Nasripin mengaku, saat ini dirinya sudah punya pemasok tetap ikan jendil. Diambil dari para pemancing di sungai bengawan solo. Dalam satu kali memasak bisa menghabiskan 20 hingga 50 olahan ikan jemdil dalam satu hari.
Muhajir, salah satu pengunjung mengungkapkan kali kedua mencoba kulineran di lokasi tersebut. Tempat yang teduh menjadi alasan dirinya berkunjung, menyantap olahan ikan yang dimasak berbagai varian yakni, digoreng maupun berkuah seperti garangasem. (luk/bgs)
Editor : Hakam Alghivari